Sabtu, 23 Juli 2011

Membangun Entrepreneurship di Era Global

Saat ini tengah berkembang trend berbelanja secara online yang memungkinkan interaksi antar penjual dan pembeli yang berjarak ratusan bahkan ribuan kilometer. Berbagai inovasi dan kreasi diciptakan demi menarik para calon pembeli. Jarak bukan lagi menjadi halangan untuk menjalankan bisnis meski sang penjual berada di pelosok negeri. Inilah entrepreneur sejati yang sesungguhnya. Selalu memiliki ide kreatif untuk tetap menghidupkan usahanya.
Entrepreneur adalah salah satu bentuk kemandirian yang mampu melepaskan diri dari stereotip kuno, bahwa “menjadi PNS merupakan jaminan hidup akan terus terjamin hingga tua”. Seorang entrepreneur berani mencoba untuk membuka lapangan kerja sendiri sesuai kemampuan dan minatnya, bahkan bisa menyerap tenaga kerja, sehingga turut mengurangi jumlah pengangguran, bahkan mungkin juga dapat mengurangi kemiskinan.
Ada tiga alasan orang Minang merantau : 1. Pendidikan 2. Pekerjaan, dan 3. Mencari suasana baru yang lain dari kampung halaman. Jika dihubungkan dengan kultur masyarakat Minang yang terkenal dengan jiwa dagangnya, maka tak mengherankan banyak dari pemuda-pemuda Minang yang memiliki kesadaran untuk berwirausaha sejak dini. Seorang entrepreneur Minang lebih cocok dikatakan pedagang daripada sebagai pengusaha dalam artian industri kapitalistik. Dengan kata lain, usaha mereka sebagian besar bergerak ditingkat menengah ke bawah, bukan menengah ke atas. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, telah banyak bermunculan pengusaha-pengusaha muda Minang yang mampu tampil sebagai pahlawan-pahlawan baru di dunia industri. Berkat merantau akan lahir jiwa-jiwa entrepreneur. Ciri entrepreneur itu antara lain, seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidak diperhitungkan oleh orang lain. Seorang entrepreneur juga adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang kurang menyenangkan menjadi keadaan yang ia inginkan. Seorang entrepreneur adalah pengambil resiko, baik resiko finansial maupun resiko yang bersifat mental.
Arus globalisasi dan modernisasi dalam segala aspek kehidupan juga turut mempengaruhi dunia entrepreneur, baik dari manajemen pengolahan sumber daya sampai infrastruktur yang digunakan. Jika dulu, metode yang digunakan sangat sederhana, kini metode tradisional tersebut telah digantikan berbagai macam metode terbaru dan termutakhir, seperti bisnis online di atas. Bahkan seorang pengusaha yang berada jauh di kampung, dapat mengiklankan usahanya dalam media online .
Globalisasi dalam dunia entrepreneur juga mendorong tumbuhnya generasi-generasi muda yang kreatif dan inovatif. Para pelajar tak lagi terpaku pada impian-impian untuk menjadi pegawai negeri nantinya, namun mereka telah mampu bermimpi untuk menjadi seorang pengusaha sukses dengan cara mereka sendiri. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil, karena pemerintah agaknya telah menyadari potensi-potensi besar dari pelajar tersebut. Dengan diadakannya berbagai kompetisi entrepreneurship bagi kalangan pelajar dan mahasiswa yang mampu memfasilitasi para pelajar untuk mengembangkan jiwa entrepreneur mereka yang akan berguna kelak jika mereka telah mampu menjadi entrepreneur sejati.
Era globalisasi juga menuntut tumbuhnya entrepreneur muda yang tak hanya berorientasi pada pemupukan modal dan profit maksimal semata, melainkan lebih pada orientasi untuk memenuhi tuntunan sosial yang berbagai macam, dan turut serta dalam mewujudkan kemakmuran masyarakat. Dan yang lebih penting kesadaran akan ide-ide kemajuan yang paralel dengan nasionalisme ke-Indonesiaan yang modern menempatkan diri mereka sekaligus sebagai the agent of change dalam menjawab tantangan zaman.
Bukan hal yang baru lagi jika ada anggapan “wirausaha dapat menggerakkan perekonomian negara secara mandiri”. Semakin banyak entrepreneur yang dimiliki suatu negara, semakin mandiri negara tersebut. Hal ini dapat dipupuk dengan pemberian pendidikan entrepreneurship sejak dini kepada pelajar. Pemerintah dapat menambah mata pelajaran entrepreneurship ke dalam kurikulum sekolah menengah sebagai mata pelajaran pilihan. Pendidikan entrepreneurship telah tampak berkembang pada sekolah menengah kejuruan, seperti SMK 3 Padang yang memiliki Edumart sebagai wadah para siswa mengembangkan jiwa entrepreneurship mereka. Bisa juga dengan pemberian seminar-seminar dan penyuluhan-penyuluhan mengenai entrepreneurship kepada pelajar.
Usaha pemupukan jiwa entrepreneur dalam diri para pelajar tak cukup hanya dilakukan oleh pemerintah, walaupun peran pemerintah sendiri sangat penting sebagai pendorong dan pemberi fasilitas bagi entrepreneur yang ingin maju dan sukses. Jiwa entrepreneur harus terus ditumbuhkan oleh setiap generasi muda dengan melihat berbagai kesempatan yang dapat dijadikan lahan untuk berbisnis. Bagi pelajar, berbisnis bukanlah hal yang harus dibayangkan sebagai sesuatu yang sulit, namun dapat dimulai dari lingkungan sehari-hari dan dengan cara yang sederhana.
Menjadi seorang entrepreneur sekaligus menjawab tantangan global yang terus bergerak maju dan membutuhkan generasi yang mandiri dan dapat dipercaya. Seorang dapat dikatakan sebagai entrepreneur sejati jika ia memiliki empat kriteria : 1. Kemandirian, 2. Kejujuran, 3. Pekerja keras, 4. Bertanggungjawab.
Seorang entrepreneur juga harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh dirinya sendiri dan lingkungannya, kerena entrepreneur sejati haruslah memiliki kepedulian sosial yang tinggi jika ingin terus sukses dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam berwirausaha. Namun, menjadi seorang entrepreneur tidaklah semudah “membalikkan telapak tangan”, banyak kendala yang akan dihadapi apalagi jika kita merupakan “anak baru” dalam dunia entrepreneurship, seperti kesulitan modal dan kurangnya pengalaman dalam dunia wirausaha. Hal ini sebenarnya yang merupakan motor penggerak kegiatan ekonomi masyarakat. Pemerintah bisa memberikan pinjaman modal dan memberikan pelatihan entrepreneurship yang rutin dilakukan untuk semua kalangan masyarakat, termasuk pelajar usia sekolah.
Jiwa entrepreneur diharapkan terus berkembang dalam kehidupan pendidikan pelajar di Indonesia, karena entrepreneurship merupakan bekal penting pembangunan karakter ekonomi yang kuat bagi negara berkembang seperti Indonesia. Pelajar merupakan sasaran penting yang harus terus diberikan motivasi dan dorongan moral agar dapat terus menggali potensi kewirausahaan dalam dirinya.

Jumat, 20 Mei 2011

Kerudung Toska dari Rusia

Mata bening kehijauan milik Bu Tiur kembali menatap tajam wajah sok tak berdosaku yang sedang asyik terpekur ke bawah lantai menyaksikan dua ekor semut saling tarik-menarik. Aku sudah bosan. Bukan karena aku tak menyukai Bu Tiur. Bukan, bukan karena itu. Alasannya adalah karena dalam bulan ini saja, aku sudah mengunjungi tempat ini lima kali. Tempatnya adalah di ruang majelis guru SMA Negeri 3 Padang. Sekolahku. Sekarang aku sudah 30 menit duduk di depan Bu Tiur dan beliau masih menanyakan pertanyaan yang sama. Mengapa kamu melakukan itu? Mengapa kamu melakukan itu? Blablabla. Ya Tuhan, pertanyaan itu berputar di kepalaku. Tapi aku coba sabar untuk tidak bersuara dan menjawab pertanyaan beliau. Hari ini aku berhasil menang telak dari si centil Prita. Bagaimana tidak menang, Prita yang lemah gemulai itu sekali pelintir saja sudah menangis-nangis kesakitan. Akhirnya Bu Tiur frustasi juga melihatku hanya diam tak bergeming, dan menyuruhku kembali ke kelas.
Namaku Aulia Sephia, tapi teman-teman lebih sering memanggilku Asep. Mungkin karena watakku agak berbeda dari wanita kebanyakan. Saat teman-teman wanitaku berbondong-bondong masuk les piano dan biola, aku malah ikut kursus angklung. Saat teman-teman latihan balet dan berenang, aku malah mati-matian belajar pencak silat. Padahal Ibu bilang aku cukup manis dan rupawan, seperti orang-orang keturunan Minang. Tapi aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi wanita yang suka berdandan dan centil.
Mengenai prestasi sekolah, aku tidak bisa diremehkan. Bukannya sombong, tapi memang begitulah kenyataannya. Di kelas, aku hampir selalu masuk jajaran tiga besar. Mungkin juga karena itu Bu Tiur lebih perhatian kepadaku dan selalu mengecek keadaanku, kalau-kalau aku membuat keonaran lagi.
Hari ini kembali aku duduk manis di “kursi pesakitan”. Guru-guru hanya geleng-geleng kepala melihatku masuk ruang guru dengan “senyum pepsodent”. Langganan, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.
“Aulia, kamu tahu mengapa Ibu memanggilmu kesini?”, tanya Bu Tiur dengan sorot mata seolah-olah berharap aku tahu jawaban dari pertanyaannya tersebut. “Eng… tidak Bu. Dua hari ini saya nggak berantem lagi kok”, jawabku dengan nada yang sedikit memelas. Sekilas ku lihat Bu Tiur tersenyum. “Bukan karena itu Aulia, kalau masalah itu, Ibu tidak akan memanggilmu kesini, tapi Ibu akan langsung menelfon orang tuamu. Hehehe”. Mendengar tawa renyah Bu Tiur, aku jadi ikut tertawa. Guru Bahasa Indonesiaku ini sungguh mengagumkan. Guruku ini sangat periang dan baik hati. Beliau juga memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan. Sosok pendidik yang tak hanya mendidik dengan kata-kata, namun langsung mempraktekkannya dalam kehidupannya yang bersahaja. Di balik mata hijau teduhnya, guruku ini menyimpan keeksotisan khas gadis-gadis Aceh serta kemolekan dan keceriaan para Tsarina Rusia. Bu Tiur pernah bercerita di depan kelas bahwa beliau dibesarkan di Aceh, namun saat keadaan Aceh kacau balau karena kehadiran GAM (Gerakan Aceh Merdeka), maka Bu Tiur yang saat itu berumur 10 tahun dibawa sang kakek ke Rusia, negara asal ayahnya. Bu Tiur menetap selama 9 tahun di Rusia, namun akhirnya kembali ke Aceh karena ibunda Bu Tiur merindukannya. Bu Tiur sewaktu di Rusia sempat memiliki nama Rusia, tapi beliau lebih bangga memakai nama Acehnya, Cut Tiur Keumala. Bu Tiur juga sering memakai kerudung cantik berwarna toska, hampir setiap hari. Kerudung itu sudah seperti bagian yang tak terpisahkan dari diri Bu Tiur. Guru adalah impian Bu Tiur semenjak kecil, oleh karena itu Bu Tiur langsung melanjutkan studi di bidang pendidikan, tepatnya di jurusan Sastra Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang. Beliau memang selalu mengagumi sastra Indonesia.
“Terus? Kalau bukan karena itu, karena apalagi Bu?”, tanyaku penasaran. Ini hal yang tak biasa. “Begini, Ibu tau kamu sangat berbakat di bidang sastra. Ibu lihat hasil tulisanmu sangat bagus dan berkelas. Ibu malah tidak menyangka kamu yang membuat tulisan-tulisan itu. Hehe. Kamu juga sangat indah membacakan puisi. Ibu sudah lihat minggu kemarin”, jelas Bu Tiur membuat hidungku kembang kempis bangga. Tapi apa hubungannya itu semua dengan keberadaanku ada disini? “Jadi, Ibu ingin kamu tanggal 2 Mei besok, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, mewakili sekolah kita untuk berkompetisi dalam lomba baca puisi, lomba cerita rakyat, dan lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatera Barat, dan Ibu telah memilihmu untuk menulis cerpen. Ibu harap kamu siap mengemban tugas ini. Bukankah kamu memang suka tantangan?” tantang Bu Tiur kepadaku, menjawab tuntas semua pertanyaanku tadi. Apa? Menulis cerpen? Bagaimana bisa? Aku hanya coba menulis artikel dan puisi, bukan cerpen, tapi aku tergelitik mendengar pertanyaan Bu Tiur yang terakhir. “Bukankah kamu memang suka tantangan?”. Ya, aku harus bisa.
Waktuku tinggal 9 hari lagi. Aku harus benar-benar siap. Membuat artikel yang panjangnya lebih dari dua halaman saja aku bisa menyelesaikannya dalam hitungan jam, menulis puisi yang menggunakan kalimat-kalimat sastra tingkat tinggi juga begitu. Aku pasti bisa menulis cerpen yang tak lebih dari 8 halaman itu dalam 9 hari. Pokoknya aku harus bisa.
Aku mulai mencari tema dan judul untuk cerpenku nanti. Cerpen ini harus bertemakan pendidikan. Setelah mengelilingi sekolah untuk mencari inspirasi untuk tema, akhirnya aku menemukan satu objek yang akan ku jadikan “tokoh utama” dalam cerpenku nanti. Bu Guru Cut Tiur Keumala. Guruku yang cantik dibalut kerudung toska nan indah.
Pertama-tama, aku harus meneliti setiap gerak-gerik Bu Tiur di sekolah. Aku baru tau, ternyata Bu Tiur sejak kembali dari Rusia, tidak pernah makan nasi dan menggantinya dengan makan sayur-sayuran saja. Bu Tiur juga akan gemetaran saat dia ingin marah, karena itu Bu Tiur tidak pernah memarahi murid-muridnya. Bu Tiur juga akan lari terbirit-birit jika mendengar bunyi letusan apa saja, mungkin trauma masa kecil saat masa-masa penyerangan GAM di Aceh, apalagi baru-baru ini terdengar kabar ada letusan bom buku di Jalan Khatib Sulaiman. Konyol sekali kedengarannya.
Saat ini aku tengah berada di depan rumah Bu Tiur. Aku merasa perlu menanyakan satu hal pada keluarga beliau. Cerpenku sudah hampir selesai, hanya tinggal bagian klimaks saja.
Tok tok tok. Aku mengetuk pintu rumah Bu Tiur. Rumah ini sejuk sekali, mudah-mudahan penghuni rumah ini juga sama sejuknya dengan rumahnya.
“Ya, mau mencari siapa nak?”, seorang wanita paruh baya membuka pintu. “Saya ingin bertemu dengan ibu dari Bu Guru Tiur. Bisa Bu?”, tanyaku sopan pada wanita yang sekilas wajahnya mirip dengan Bu Tiur. “Oooh iya, saya sendiri nak. Ada apa ya?”, tanyanya setelah mempersilahkanku duduk. Setelah bercerita cukup lama untuk berbasa-basi, akhirnya aku bertanya hal yang dari dulu membuatku penasaran. Aku ingin bertanya apa sebenarnya nama Rusia Bu Tiur yang selama ini disembunyikannya. Mendengar pertanyaanku, Bu Meutia hanya tertawa, sepertinya hal nama ini bukan sesuatu yang penting baginya. “Mengapa kamu tak bertanya langsung pada gurumu itu?”, tanyanya. “Bu Tiur tidak pernah mau menjawab Bu. Tolonglah!”. “Nama Rusianya adalah Jelena Larissa”, jawabnya singkat, tak mengerti bahwa nama itu menjadi suatu rahasia besar di sekolah. Aku terkagum-kagum dengan nama itu, indah sekali, apalagi setelah aku mengetahui arti dibalik namanya.
Akhirnya cerpen itu rampung tepat 2 hari sebelum batas waktu pengiriman naskah. Jangan sampai Bu Tiur tahu tentang cerpenku, dan aku yakin Bu Tiur tidak akan tahu aku ke rumahnya untuk menanyakan banyak hal, karena aku sudah berpesan pada Bu Meutia agar tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganku waktu itu. Ini akan menjadi kejutan bagi Bu Tiur yang akan berulang tahun ke 26 tahun tepat tanggal 2 Mei lusa. Aku harus benar-benar memberikan kejutan sebagai hadiah ulang tahun Bu Tiur kali ini.
****
Hari itu datang. Hari yang ku tunggu-tunggu selama 9 hari belakangan ini. Hari Pendidikan Nasional. Ribuan orang telah memadati aula Universitas Bung Hatta, banyak dari mereka yang membawa spanduk berwarna-warni, mungkin supporter dari masing-masing sekolah yang mengirim wakil-wakilnya berjuang membawa nama sekolah. Aku semakin gelisah tak karuan, bukannya tak ada supporter, malah sekolah telah mengirim supporter-supporter terbaiknya untuk turut berjuang mendukungku, Bu Tiur juga tampak diantara teman-temanku, tapi anehnya beliau tidak memakai kerudung toska kesayangannya. Aku gelisah karena aku takut tidak akan menang.
Setelah mendengar nama pemenang kedua dan ketiga, hatiku mulai tak karuan. Sepertinya perjuanganku akan sia-sia. Aku tersentak kaget saat pembawa acara menyebut namaku sebagai pemenang pertama lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatra Barat yang diadakan Universitas Bung Hatta tahun ini..
Aku naik panggung dengan rasa haru dan syukur kepada Tuhan. Aku harus melakukannya sekarang. Saatnya telah tiba.
Pahlawan Bermata Bening
Karya: Aulia Sephia
Pahlawanku, pahlawan bermata bening nan menyejukkan
Pahlawanku, wajah cemerlangmu melebihi para Tsarina Rusia yang jelita
Pahlawanku, dengan kerudung toska yang setia membalut mahkotamu, kau ajarkan kami bagaimana menjadi manusia yang berguna.
Pahlawanku, gadis Tanah Rencong yang berhati lembut, yang akan ketakutan jika mendengar letusan, dan gemetaran jika murka, tapi engkau selalu ajarkan kami untuk tidak pernah takut kepada siapapun selain Tuhan

*Bu Tiur tersentak, menajamkan pendengaran dan mencodongkan tubuhnya ke depan
Pahlawanku, kau lebih tahu tentang diriku melebihi diriku sendiri
Pahlawanku, kau duduk di kelas bukan sebagai guru, tapi kau adalah teman setia murid-muridmu yang duduk menunggu tawa renyah dan pipimu yang merekah merah jika kami menggodamu
Pahlawanku, semangat dan dedikasimu terhadap pendidikan membuatku malu karena tak dapat berbuat banyak untuk negaraku.

*Bu Tiur berkaca-kaca dan tak lama kemudian mengusap ujung matanya dengan tissue.
Pahlawanku, kau guru terbaik yang kumiliki, semoga Tuhan selalu menyayangimu, seperti kami yang selalu mencintai dan mengagumi kedalaman jiwamu
Pahlawanku, malaikat-malaikat telah mencatat setiap ketulusan dan pengabdianmu bagi pendidikan di negeri yang rindu akan sosok sepertimu
Pahlawanku, yang tepat 26 tahun lalu dilahirkan
Pahlawanku, Jelena Larissa
Sinar terang yang riang dan bersuka cita.


Teman-temanku sontak bertepuk tangan riuh dan bersahut-sahutan menyoraki namaku setelah aku menyelesaikan baris terakhir puisiku, penonton yang lain juga ikut bertepuk tangan. Tanpa disadari aku meneteskan air mata haru--hal yang tak pernah ku lakukan--bukan karena tepuk tangan yang riuh rendah mendukungku, tetapi aku telah larut dalam penggalan puisi yang ku tulis dalam cerpenku yang ku persembahkan bagi Bu Tiur. Itulah bagian cerpen yang 9 hari ini mati-matian ku kerjakan.
Bu Tiur berjalan dan mendekat padaku, memelukku erat sekali. Aku hanya diam membiarkan Bu Tiur menyelesaikan isakannya. Setelah tangisnya reda, aku bertanya, “Kenapa menangis, Bu?. “Ibu sangat menyayangimu. Tak salah pilihan Ibu memintamu menulis cerpen. Ibu sangat bangga padamu Aulia”, jelas Bu Tiur dengan mata berkaca-kaca. “Hehe. Puisi Aulia bagus ya, Bu? Oh iya, selamat ulang tahun Bu”, tanyaku nyengir tak mengerti keadaan. “Puisimu istimewa, Nak”, lalu Bu Tiur merogoh tas nya dan mengeluarkan sesuatu berwarna toska. Kerudung. “Ini. Ambillah!”, menyodorkan kerudung tersebut kepadaku. “Lho? Apa ini, Bu?”, tanyaku heran, karena kerudung ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai Bu Tiur. “Masa kamu tidak tau? Ibu rasa kamu sangat tahu benda ini”. Ya, tebakanku benar. Kerudung ini adalah kerudung toska kesayangan Bu Tiur.
Kerudung cantik yang kini resmi menjadi milikku ini ternyata merupakan hadiah dari guru Bu Tiur saat bersekolah di Rusia dulu. Gurunya tersebut sangat menyayangi Bu Tiur, karena Bu Tiur merupakan murid yang cerdas dan sopan, seperti kebanyakan orang Indonesia. Sewaktu Bu Tiur akan kembali ke Indonesia, gurunya tersebut sangat sedih, karena Bu Tiur tidak pernah mengatakan rencananya tersebut ke gurunya. Bu Tiur tahu, gurunya tersebut akan sangat sedih mendengar kabar tersebut.
Setelah Bu Tiur menetap di Indonesia, kakeknya datang dari Rusia, saat GAM dan Indonesia sudah berdamai. Kakeknya memberikan oleh-oleh dari Rusia, yaitu kerudung buatan guru Bu Tiur saat di Rusia dulu. Kerudung itu dibuat sebulan sebelum kakeknya terbang ke Indonesia, karena sang guru mendengar dari kakek Bu Tiur bahwa beliau telah berjilbab. Saat menerima kerudung tersebut, Bu Tiur sangat senang dan semakin rindu kepada gurunya. Di dalam surat yang menyertai kerudung toska dari Rusia itu, guru Rusianya mengatakan, bahwa Bu Tiur boleh memberikan jilbab itu suatu hari nanti jika Bu Tiur menemukan murid terbaiknya. Aku tak menyangka, siswa yang sering berbuat keonaran sepertiku menerima kehormatan seperti ini. Aku menatap cermin di depanku dan sebutir air mata jatuh di pipiku. Hanya sebutir. Terimakasih Bu Tiur. Terimakasih pahlawan bermata beningku. Terimakasih guruku. Selamat Hari Pendidikan Bu.

Padang, 12 Mei 2011

Cyber School, Impian Pendidikan Masa Depan Sumatera Barat

Pendidikan dan teknologi bagai dua sisi mata uang yang tidak akan pernah dapat dipisahkan. Teknologi dan informasi memegang peran sangat penting dalam proses pengembangan pendidikan saat ini. Tanpa teknologi, maka pendidikan zaman sekarang akan tidak lebih baik dari pendidikan 20 tahun silam. Mungkin saat ini kita masih menggunakan lampu pijar yang ditemukan Thomas Alfa Edison pada tahun 1879, bukannya lampu neon yang lebih terang dan lebih hemat. Mungkin juga saat ini kita masih menggunakan mesin ketik kuno, bukannya komputer-komputer canggih yang pintar dan ringan.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari perubahan-perubahan besar yang terjadi, karena roda globalisasi berputar sangat cepat, bahkan sebelum kita menyadarinya, terlebih setelah Revolusi Industri yang melanda Inggris dan diikuti berbagai negara di Eropa. Pada tahun 1903, Orville dan Wilbur Wright menerbangkan pesawat bersayap ganda mereka, suatu impian yang diimpikan manusia sejak dulu. Namun, kini lebih dari 10 dekade setelah mereka menerbangkan pesawat pertama mereka, telah banyak ilmuwan-ilmuwan yang mengembangkan dasar teori Wright Bersaudara untuk kemudian lahirlah pesawat-pesawat canggih, seperti : Concorde yang terbang dengan kecepatan 2.300 km/jam, Airbus A380 merupakan pesawat terbesar berlantai 2, dan pesawat jumbo jet Boeing 747. Itu semua tidak lepas dari peran teknologi yang terus berkembang dan bergerak maju
Pemanfaatan sistem informasi tak hanya merambah dunia kantoran dan eksekutif, tapi juga sangat bermanfaat bagi para praktisi pendidikan, akademisi, dan para pelajar. Saat ini tengah berkembang tren baru di dunia pendidikan. Banyak sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang memanfaatkan fasilitas jaringan internet nirkabel (tanpa kabel) yang biasa disebut hotspot sebagai media para siswa mendapatkan akses gratis internet di lingkungan sekolah atau kampus. Hal ini akibat dari perkembangan informasi yang menyebabkan setiap orang haus akan informasi terbaru dimana saja berada.
Di Sumatera Barat, hotspot tak lagi dimanfaatkan café-café mewah untuk menarik konsumen, namun kini juga telah menjamur di institusi-institusi pendidikan, seperti di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Tampaknya, para praktisi pendidikan ini juga telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya teknologi dan informasi untuk menunjang prestasi belajar para siswa. Fasilitas hotspot tak hanya mewarnai ranah pendidikan di kota besar seperti Padang, namun juga telah menyemarakkan sekolah-sekolah di kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat. Tinggal di kabupaten kecil tak lagi menjadi halangan bagi para siswa untuk mendapatkan fasilitas informasi seperti yang dimiliki siswa-siswa di kota.
Kemajuan teknologi dan informasi juga merupakan basis pembentukan sekolah-sekolah bertaraf internasional di Sumatera Barat. Hampir seluruh Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menawarkan fasilitas hotspot dan teknologi canggih dalam kelas yang mampu menunjang proses belajar mengajar. Pemakaian Over Head Projector (OHP) dan laptop di dalam kelas internasional mampu menawarkan hal baru di tengah kejenuhan siswa mengikuti metode belajar konvensional yang membosankan, dengan penggunaan perangkat elektronik canggih ini, siswa dapat menonton berbagai animasi dan sarana belajar audio visual yang dapat menampilkan berbagai pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari buku pelajaran. Hal ini turut mendorong akselerasi pendidikan di Sumatera Barat.
Era globalisasi dan modernisasi membawa kita kepada dunia tanpa batas yang tak lagi menjadikan jarak sebagai kendala. Dunia seperti dilipat sedemikian rupa hingga menjadi titik-titik kecil yang dapat dijangkau hanya dengan sekali klik. Begitupun dengan dunia pendidikan, jika saat ini seorang ilmuwan di Ukraina menemukan mikroorganisme baru penghancur sel kanker, maka bisa dipastikan, tak sampai hitungan hari, penemuan tersebut akan tersebar ke seluruh pelosok dunia. Hal itu tak lepas dari adanya peran besar teknologi yang sukses mempersempit ruang dan waktu.
Tak heran, jika kurang dari 10 tahun mendatang, akan terjadi peningkatan besar-besaran dalam penggunaan internet di Sumatera Barat, khususnya dalam dunia pendidikan. Pelajar-pelajar di Sumatera Barat telah terbiasa dengan berbagai teknologi canggih yang bisa dengan mudah mereka akses dimana saja, melalui smartphone-smartphone yang kian menjamur di kalangan remaja usia sekolah. Sekolah-sekolah mulai menawarkan paket pendidikan bermutu tinggi dengan fasilitas Hi-Tech yang mumpuni. Siswa tak lagi repot membolak-balik buku hanya untuk mendapatkan secuil data, karena dengan fasilitas yang disediakan sekolah, mereka akan mampu memperoleh informasi tersebut hanya dalam hitungan detik melalui laptop-laptop atau notebook yang mereka bawa dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot di sekolah. Hal ini akan mempermudah proses belajar mengajar dan menjadi suatu cara yang efektif dan efisien dalam memperoleh ilmu. Ilmu yang didapatkan tak hanya sebatas ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, namun juga berbagai informasi-informasi penting yang selalu di update melalui internet. Hal ini akan memperkuat minat siswa akan ilmu pengetahuan dan memberikan wawasan yang tidak membosankan, karena pelajar-pelajar zaman sekarang cenderung malas membuka buku untuk kemudian betah berlama-lama di depan komputer bermain game online atau membuka situs jejaring sosial, yang kebanyakan membawa dampak buruk bagi prestasi belajar siswa.
Dengan penggunaan sistem informasi yang mudah di lingkungan sekolah, maka impian membangun konsep Cyber School di sekolah-sekolah di Sumatera Barat tak lama lagi akan terwujud dalam bentuk sekolah-sekolah modern yang mampu memfasilitasi murid-muridnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, ini semua akan sangat sulit berjalan jika tenaga pengajar belum atau tidak mampu menguasai teknologi. Seorang guru dalam kapasitasnya sebagai seorang pengajar seharusnya juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Tidak ada lagi istilahnya seorang guru itu gaptek (gagap teknologi). Harus ada sinergisitas antara murid dan guru, dan itu tidak dapat dihindari. Maka, sebelum menerapkan konsep Cyber School di sekolah, harus ada pelatihan-pelatihan mendasar tentang cara pemanfaatan teknologi dan informasi bagi guru-guru.
Konsep Cyber School diharapkan mampu menjadi wadah bagi generasi-generasi muda yang kreatif dan ingin maju untuk dapat memfasilitasi dan mengeksplorasi bakat-bakat dan keinginan-keinginan para siswa tersebut agar menjadi suatu yang berharga dan berguna saat mereka terjun langsung ke dalam masyarakat. Sekolah tak lagi menjadi suatu tempat membosankan yang hanya berkutat dengan setumpuk buku dan pekerjaan rumah, guru yang killer dan jadwal yang itu-itu saja. Sekolah akan menjadi tempat yang dirindukan, dan hari bersekolah menjadi hari-hari yang dinantikan. Tak ada lagi kata-kata malas berangkat sekolah, yang ada hanya keceriaan dan semangat untuk datang ke sekolah tercinta. Setiap siswa memperoleh apa yang mereka ingin dapatkan dari pendidikan. Pendidikan bukan lagi masalah bagaimana menyelesaikan aljabar-aljabar yang rumit, bagaimana menyelesaikan teorema-teorema matematika atau bahkan mengukur kelajuan benda, tapi lebih dari itu, pendidikan merupakan proses pengembangan diri, mental, bakat, dan minat. Pendidikan harus dimulai dari pemanfaatan teknologi dan informasi yang tepat dan benar. Teknologi dapat membuat minat siswa menjadi terarah. Seorang anak yang tidak suka atau tidak mahir dalam pelajaran eksak atau sains, seperti: Matematika, Fisika, Kimia dan lebih menyukai pelajaran sosial dan menulis, maka dengan kemajuan teknologi, anak tersebut dapat menyalurkan hobi menulisnya dalam bentuk tulisan-tulisan yang bisa diposkan ke blog-blog yang dapat diakses melalui internet.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang dapat menguasai teknologi, begitulah yang sering kita dengar dan begitulah kenyataannya. Amerika Serikat, negara terkuat di dunia, dengan keterbatasan sumber daya alam yang mereka miliki, mereka dapat memimpin dunia melalui pengaruh-pengaruh ilmuwan-ilmuwan dan pemikir-pemikir hebat yang dilahirkan dari Negeri Paman Sam tersebut. Mereka menguasai teknologi dan menaruh perhatian sangat besar dalam pendidikan. Bandingkan dengan negara kita, Indonesia. Dibalik kekayaan alam yang berlimpah ruah, negara kita masih menyimpan permasalahan-permasalahan pelik ekonomi, karena keterbatasan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi dan mengolah kekayaan alam tersebut. Sebut saja PT. Freeport yang menancapkan kukunya di alam kaya Irian, perusahaan milik Amerika Serikat ini bertahun-tahun mengeruk kekayaan emas di tanah “hitam” ini tanpa ada imbalan yang setimpal bagi masyarakat yang memiliki kekayaan tersebut. Sebagian hasil perusahaan tersebut dibawa ke Amerika Serikat untuk membangun negaranya.
Sumatera Barat sebagai negeri yang sejak dulu dikenal sebagai negeri yang banyak melahirkan pemikir – pemikir hebat skala nasional dan internasional, kini telah kehilangan pamornya. Hal ini disebabkan menurunnya minat generasi muda Sumatera Barat akan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka lebih senang bermain dan menikmati masa muda dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Sudah saatnya generasi muda Sumatera Barat bangkit dari keterpurukan dan kembali menyusun puing – puing kejayaaan masa lalu. Tidak ada lagi generasi muda Sumatera Barat yang mengeluh saat berangkat ke sekolah, yang ada hanya semangat para pejuang, namun kini bukan lagi berjuang di medan perang mempertahankan negara dari penjajah kolonial, namun berjuang merebut kembali kejayaan Sumatera Barat di pentas nasional dan internasional. Sebagai pencetak manusia – manusia jempolan, dan usaha tersebut saat ini tidak cukup dilakukan hanya dengan duduk manis di bangku kelas, mendengarkan guru menerangkan pelajaran, dan menerima begitu saja apa yang didapatkan di sekolah, namun juga harus kritis dan memiliki kemampuan dalam penguasaan teknologi. Jika Sumatera Barat ingin merebut kejayaan itu kembali, maka generasi muda Sumatera Barat haruslah menguasai teknologi, karena teknologi merupakan kunci menaklukan dunia.

Minggu, 17 April 2011

Doa teruntuk saudaraku disana

Tuhan, sampai saat ini, masih kulihat dan kudengar penderitaan saudara-saudaraku di Timur Tengah.
Di Palestina, Lebanon, Irak, Iran, Afghanistan, dan hampir di seluruh Jazirah Arab, tanah para nabi yang mulia.
Tuhan, sampai saat ini apakah mereka masih dihujani implosion bomb, phosphor bomb, cluster bomb*, dan semua jenis senjata mutakhir dan mematikan lainnya?
Tuhan, dimana Engkau?? Tolong jelaskan takdir ini !!!
Jeritan mereka telah menembus batas ruang dan waktu.
Jeritan mereka adalah jeritan umat Muslim di seluruh punggung bumi.
Jeritan mereka adalah pedang yang menebas sisi kemanusiaan kami.
Tuhan, kapankah Kau hantarkan kedamaian yang Kau janjikan itu?
Apakah kedamaian dan keamanan  hanyalah sebuah angan-angan setelah mereka menyaksikan bagaimana anak-anak, istri-istri, suami-suami, dan seluruh keluarga mereka dibantai didepan mata mereka?
Apakah impian mereka untuk dapat sholat berjamaah lagi di Masjidil Aqso hanyalah khayalan yang akan mereka simpan hingga sangkalala bertalu-talu?
Mereka terusir dari rumah mereka sendiri.
Mereka terusir dari tanah air mereka sendiri.
Atlas dunia tak lagi memuat peta Palestina.
Tak ada yang peduli nasib mereka. Tak ada yang ingin tahu.
Semuanya menutup mata, semuanya menutup telinga, semuanya menutup hati dan perasaan.
Ini bukan masalah politik, tapi ini masalah kemanusiaan.
Tuhan, tak kah Kau iba melihat mereka?
Tak iba kah Engkau melihat hamba-hambaMu bersimbah darah mempertahankan tanah air mereka?
Mereka salah apa?
Dimana keadilanMu yang Kau agung-agung kan itu????
Anak-anak kecil yang seharusnya berada di sekolah belajar dan menikmati masa indah kanak-kanaknya, kini malah belajar bagaimana memegang senjata dan mempertahankan keluarga dan negaranya.
Mereka selalu diliputi kesedihan dan ketakutan.
Ratusan ribu nyawa tak berdosa melayang di tangan para penjahat perang biadab itu.
Mereka syahid dan gugur saat bertempur di jalanMu.
Ribuan saudara, sanak kerabat, dan teman-teman mengantar kepergiannya menghadapMu.
Tuhan, jadikanlah darah mereka yang tertumpah di medan perang sebagai darah para syuhada yang akan menyejukkan mereka di akhirat nanti.
Tuhan, jika tangisku dapat membantu mereka, aku rela menangis setiap malam untuk meringankan beban mereka. Hanya itu yang dapat aku lakukan untuk saudara-saudara yang aku cintai di belahan bumi lain yang aku tak tau dimana. Yang aku tau hanya mereka adalah saudaraku, mereka adalah manusia, dan mereka PATUT DIMANUSIAKAN.
Tuhan, hanya satu doaku di penghujung hari ini, doa seorang saudara jauh untuk saudara-saudaranya yang jauh disana. Hantarkanlah kesejukan dan kedamaian surgawi bagi saudara-saudaraku disana….



anak anak palestina yang ketakukan

tentara israel menodongkan senjata kepada keluarga palestina


pejuang palestina yang menghadapi tank raksasa israel


*  IMPLOSION BOMB (vacuum bomb) = Bom jenis ini sanggup “menghisap” satu blok bangunan 10 lantai ke dalam tanah hanya dalam beberapa detik, membuatnya menjadi tumbukan besar beton dan puing, mengubur seluruh penghuni di dalamnya hidup-hidup. Semuanya terjadi dalam sesaat. Sungguh merupakan mimpi buruk yang sangat mengerikan.
   PHOSPHOR BOMB = Zat fosfornya menempel di kulit, paru-paru, dan usus para korban selama bertahun-tahun, terus membakar dan menghanguskan serta menyebabkan nyeri berkepanjangan. Bila mendengar tentang fosfor, banyak orang bakal teringat pelajaran  kimia di sekolah : logam ini tidak bereaksi apa-apa di dalam air, tapi bila dikeluarkan dari air, logam itu secara spontan akan terbakar. Korban-korban bom ini mengisap fosfor ke dalam paru-paru mereka dan ditakdirkan mati. Mereka akan mengeluarkan gas fosfor hingga nafas terakhir. Reaksi terbakar yang terjadi di kulit sering menembus hingga otot-otot dan tulang.
  CLUSTER BOMB (fragmentation bomb/bom anti personal) =  Jenis ini meledak dan tersebar cukup luas dalam bentuk kepingan-kepingan keci. Kepingan-kepingan ini akan diam sampai secara tak sengaja dicungkil oleh anak-anak yang ingin tahu. Kepingan itu akan meledak menjadi pecahan-pecahan kecil yang tak terhitung jumlahnya. Orang-orang yang terluka akibat pecahan-pecahan tersebut sering mengalami luka di wajah, mata, tulang, dan organ-organ tubuh. Bom ini yang dilengkapi mekanisme penunda ledakan dijatuhkan di wilayah-wilayah padat penduduk, dan jelas sekali sasarannya adalah penduduk sipil, terutama anak-anak.

Minggu, 10 April 2011

My Mom, My Sweetest Friend


Mama. Begitulah beliau selalu kami panggil. Mama adalah sosok wanita sederhana yang selalu bisa mengatur semua kegiatan rumah tangga hanya dengan dua tangannya. Mama tidak memiliki pendidikan setinggi mama teman-temanku, yang berprofesi sebagai dosen, guru, dokter, pegawai ini, pegawai itu, dll. Mama hanya ibu rumah tangga biasa, yang setiap hari hanya di rumah mengatur roda kehidupan di rumah kami. Tapi aku selalu bangga punya mama ibu rumah tangga. Beliau selalu ada untuk kami 24 jam, tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang kadang tidak bertemu mamanya dalam sehari karena padatnya kegiatan. Kadang, kalau mama sedang tidak ada kegiatan lagi, mama menghampiriku ke kamar dan bertanya banyak hal, seperti apa yang sedang aku lakukan, apa saja kegiatanku, bagaimana sekolah hari ini, bagaimana nilai-nilaiku, bagaimana dengan teman-teman, terkadang juga menanyakan keadaan pacarku. Hal-hal kecil seperti itu sangat aku syukuri, karena banyak teman-temanku yang tidak memiliki kedekatan seperti ini dengan mamanya, bukan karena mama mereka tidak sayang, tapi karena tidak punya waktu untuk melakukan itu semua. Tapi mamaku punya.
Satu hal lagi yang membuatku dekat dengan mama. Kami selalu saling terbuka. Mama memperbolehkanku berhubungan dengan lawan jenis, asal tau batas dan aturan dan tidak mengganggu pelajaran. Selama ini mama selalu memberiku ultimatum yang melecut semangat belajarku, mama selalu mengatakan kalau sampai nilai-nilaiku di sekolah jelek atau turun, maka aku tidak diperbolehkan lagi berpacaran, walaupun aku tau, ultimatum ini hanya “gertak sambal” saja, tapi aku selalu menghormati keputusan mama dan berusaha agar nilaiku selalu baik di kelas, dan hasilnya cukup memuaskan. Mama selalu memberikan apa yang aku mau, maka sebagai gantinya, aku juga harus menuruti semua kemauan mama.
Banyak dari teman-temanku yang tidak memiliki kebebasan ini, mereka malah harus backstreet dari mamanya, karena sang mama sama sekali tidak memperbolehkan mereka pacaran. Aku sangat prihatin dengan keadaan teman-temanku ini, tapi apa mau dikata, lain ibu lain pula peraturannya. Mama mengerti keadaanku sebagai seorang remaja, bahwa remaja sekarang tidak akan mungkin bisa dikungkung seperti itu. Percuma saja jika dilarang pacaran, toh kalau seandainya si anak pacaran di belakangnya, malah akan mengakibatkan sang anak tidak jujur kepada orang tua dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sikap terbuka akan membuat sang anak merasa dihargai dan disayangi. Walaupun terkadang, orang tua harus memberikan batasan yang jelas terhadap hubungan anaknya tersebut.
Mama selalu memperhatikan apa saja yang kami lakukan, mama sering bertanya “Gimana sekolah hari ini Kak?”, “Gimana nilai ulangan kemaren?”, atau jika saat itu mama kebetulan melihatku sedang berkutat dengan buku pelajaran, mama akan berkata, “Dari pagi udah belajar nonstop, sekarang masih belajar sampe larut malam, emangnya gak kepaksa otaknya belajar kak? Istirahat dulu kek”, dan aku hanya tersenyum sedikit kepada mama.
Walaupun hubunganku dengan mama cukup dekat, tapi bukan berarti hubungan kami selalu akur, sering kali kami bertengkar, dan biasanya hanya karena masalah sepele. Mama adalah seorang yang perfeksionis, mama tidak pernah membiarkan setitik debu ada di rumah, sedangkan aku yang manja, selalu tidak bisa mengerjakan apa yang mama lakukan, padahal sebagai anak gadis, aku sudah bisa melakukan apa yang mama kerjakan di rumah, seperti mencuci piring, menyapu rumah, membersihkan kamar, dan nyetrika baju, tapi aku tidak pernah melakukannya sendiri dan menunggu mama yang melakukannya. Hal ini yang kadang membuat mama marah-marah sepanjang hari. FYI ! Sampai sekarang, masih mama yang membereskan kamarku. Hehe. LOVE YOU MOM ;).
Begitu lah mama, mama yang selalu aku cintai, yang selalu aku hormati, yang selalu aku banggakan, dan yang selalu aku doakan.

Mama, belumlah pantas aku sombong di hadapanmu, sedangkan perjuanganmu melahirkanku melahirkanku ke dunia begitu berat dan menyakitkan
Mama, setiap pagi mama yang mengurus keperluanku sekolah dan berjuang agar aku tidak terlambat, tapi sering kali aku membuat mama sedih
Mama, hanya mama yang mau mengambil raporku ke sekolah. Tapi aku masih suka marah saat mama terlambat datang.
Mama, saat aku sakit, hanya mama yang peduli bahkan saat papa menganggap remeh penyakitku
Mama, setiap hari hanya mama yang membersihkan kamar dan tempat tidurku, tapi ketika mama meminta bantuanku, aku lebih sering tak menghiraukannya
Mama, ketika papa memarahiku saat nilai-nilaiku turun, mama selalu membelaku, walaupun aku tahu, mama sebenarnya juga ingin marah.
Selagi mama masih ada, aku tidak pandai bersyukur bahwa aku memiliki ibu terbaik di dunia, yang tidak ada gantinya
Maafkan aku mama, memang tak pantas aku pongah, bahkan meskipun amal ibadahku telah menggunung
Ya Allah Ya Sami’, dengarkanlah doa hamba, doa seorang anak yang mencintai Ibu Bapak nya
Berikanlah kedua orang tuaku limpahan rezeki dan kasih sayangMu, sayangilah mereka sebagaimana mereka merawatku semenjak kecil


Jumat, 08 April 2011

God of everything

Pernahkah kita lupa bahwa Tuhan selalu "awas" mengamati kita para umatNya ? Pernahkah kita tak ingat bahwa Tuhan selalu siaga memantau gerak gerik kita ? Jawabannya: SERING. Sebagai manusia, kita terlahir suci dari rahim seorang wanita yang kini kita panggil mama, mami, bunda, ibu, ummi, dll. Dalam fitrahnya sebagai manusia, sejak dari kandungan kita telah mengenal adanya Tuhan. Tak ada yang memungkiri itu. Bahkan seorang Atheis pun dalam hati terdalamnya tetap mengakui adanya Tuhan. Ada suatu kisah yang sampai saat ini masih saya ingat dengan jelas. Suatu ketika, saat Uni Soviet dipimpin oleh Mikhail Gorbachev, sang istri yang bernama Raisa Gorbachev menyaksikan sebuah pesawat tempur Amerika jatuh di depan matanya, seketika Raisa mengatakan "Ohh my God".Ohh Tuhanku. Padahal Raisa Gorbachev adalah seorang komunis. Hal ini semakin menguatkan keyakinan saya, bahwa Tuhan tak pernah benar-benar hilang dari kehidupan manusia. Bahkan seseorang yang telah memproklamirkan dirinya sebagai seorang komunis yang tak mengenal adanya Tuhan, namun fitrahnya sebagai manusia tetap mengatakan bahwa Tuhan memang ada.
Bisa dikatakan, bahwa keinginan seseorang untuk menjadi atheis, merupakan refleksi dari apa yang dia rasakan dan dia perbuat. Saat seseorang menjadi atheis, itu adalah saat dia mulai merasa, bahwa Tuhan tak begitu penting, bahwa Tuhan hanya cerita anak-anak yang disampaikan orang tua untuk menghibur anak-anaknya, bahwa Tuhan hanya rekaan manusia-manusia lemah yang tak percaya diri atas kemampuannya.
Namun, lebih dari itu, Tuhan adalah kebenaran yang nyata. Tuhan lah yang mengatur agar makanan dan udara tetap berada di jalur yang benar. Coba bayangkan jika tenggorokan dan kerongkongan berada dalam satu jalur, bisa-bisa kita mati tersedak makanan. Tuhan yang menjaga agar Matahari keluar di pagi hari dan Bulan keluar di malam hari. Coba bayangkan jika hanya Matahari saja yang keluar sepanjang hari, kita akan bosan memandangnya. Tuhan yang menjaga keseimbangan gravitasi di bumi kita ini. Coba bayangkan jika tidak ada gravitasi, bisa-bisa kita akan melayang ke angkasa luar, sedikit bersendawa saja, seluruh makanan di lambung kita akan keluar. Tuhan membuat usus kita yang panjangnya 9 meter bisa muat di perut kita yang panjangnya tak lebih dari 30 cm. Subhanallah !!!!!

Jumat, 01 April 2011

Tuhan, Ilmu Pengetahuan, dan Atheisme

Kita diciptakan oleh Pencipta Yang Cerdas. Kita ada untuk sebuah tujuan. Kita ada untuk membuktikan keberadaan Sang Pencipta.
Ilmu pengetahuan adalah sarana kita unuk mengenal Allah. Islam sangat menganjurkan ilmu pengetahuan. Kemajuan Islam dalam ilmu pengetahuan adalah bukti dari anjuran ini.
Manusia akan memahami dengan jelas mengenai penciptaan Allah akan dunia dan isinya. Dan ilmu pengetahuan adalah kendaraan kita untuk memahaminya. Perdebatan panjang tentang agama dan ilmu pengetahuan adaah hal bodoh yang dilakukan orang-orang bodoh, karena ilmu pengetahuan sesungguhnya mendekatkan kita pada jati diri dan pengetahuan kita tentang Tuhan.
Para ilmuwan penting yang masyur akan hasil penelitian dan penemuan-penemuannya adalah orang-orang yang taat akan agama.
Abu Bakar Ar-Razi, ahli dalam bidang pengobatan dan tinggal di Bagdad. Karyanya adalah ensiklopedia obat-obatan (Al-Hawi). Kemudian Abu Nasr Al-Farabi, keturunan Turki. Dia ahli dalam bidang kedokteran abad modern. Ada juga Abu Hamid Al-Ghazali, pemikir intelektual Arab, ahli dalam bidang tasawuf, hukum, teologi. Karyanya yang terkenal Ihya Ulumuddin. Orang mengatakan buku ini bahwa “Seandainya seluruh buku islam dimusnahkan dan hanya Ihya Ulumuddin yang terselamatkan, maka itu hanya kerugian kecil”. Dia dijuluki ‘’Muslim Terbesar setelah Nabi Muhammad’’ oleh Prof.  Anne Marie Schimmel. Banyak dari karya-karya para muslim jenius yang menjadi rujukan orang-orang Barat, bahkan banyak yang kemudian dipatenkan sebagai penemuan bangsa Barat.
Masyarakat muslim mencerminkan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya ilmu pengetahuan. Ketekunan para cendekiawan muslim masih tetap mengagumkan. Mereka dengan teknologi yang sederhana mampu menulis kerya-karya besar. Sebut saja, At-Thabari mampu menulis 40 halaman setiap hari dalam 40 tahun, dengan karyanya Tafsir Al-Qur’an sebanyak 30 jilid selama 10 tahun. Al-Farabi Malik, Ibnu Annas, Imam Hambal, Al-Biruni, Firdaus dan Ibnu Khaldun hidup kira-kira sampai 80 tahun.
Pengetahuan dan ilmu yang mereka pelajari semakin membuat mereka dekat dengan Tuhannya. Dan membuat mereka sampai pada kesadaran tertinggi bahwa Tuhan adalah suatu kebenaran postulat, kebenaran tertinggi dan tak terbantahkan. Bahwa menemukan jagad raya ditata sedemikian rupa hingga mereka mendapati keteraturan yang mengagumkan, dan jagad raya diatur oleh Dzat yang Maha Kuasa, bukan hasil dari suatu kejadian acak. Semakin mereka belajar tentang proses penciptaan Bumi dan Jagad Raya, dan tentang penciptaan manusia, semakin mereka yakin bahwa Darwinisme adalah hal yang mustahil. 
Dan pendapat para Atheis tentang ketidakadaan Tuhan adalah hal yang picik. Seorang ilmuwan terkemuka menyampaikan bahwa ‘’ Jika aku diajak berdebat oleh seorang Atheis, aku akan pergi ke fakultas filsafat, karena fisika tidak akan ada gunanya’’. Hal ini bisa berarti bahwa seorang Atheis tak akan mampu menguasai ilmu pengetahuan, karena mereka tidak pernah mempercayai Tuhan.
Dalam majalah Ar-Risalah, ada sebuah artikel menarik tentang komunisme yang ditulis oleh Zayyat. Saat itu Rusia mengirimkan sebuah pesawat ruang angkasa untuk melakukan misi ke ruang angkasa, kemudian setelah kembali salah seorang dari kosmonotnya—sebagaimana dikutip oleh Pravda—berkata, ‘’Kita telah naik ke langit dan kita tidak menemukan disana ada Tuhan, surga, neraka, atau malaikat’’.
Atas pernyatan yang menggelitik itu, Zayyat meresponnya dan menulis, ‘’Sungguh mengherankan kamu. Hai, bangsa merah dungu! Apakah kamu kira akan bisa melihat Allah diatas singgasana-Nya di alam terbuka? Apakah kamu pikir kamu bisa melihat gadis-gadis surga berjalan berpakaian sutra? Atau kamu akan dengar suara mengalirnya sungai Al-Kautsar(sebuah sungai disurga)? Atau kamu dapat mencium bau hangus orang yang sedang disiksa di neraka? Jika benar-benar kamu berpikir demikian, maka kekalahan dan kegagalanmu sudah terbuka untuk siapapun yang melihatnya.
Hal yang terpikirkan olehku adalah bahwa yang bisa menjelaskan kesesatan, kekacauan, dan kedunguanmu adalah karena komunisme dan atheisme ada dikepalamu. Komunisme ibarat hari ini tanpa hari esok, bumi tanpa langit, bekerja tanpa henti, dan bekerja keras tanpa memperoleh hasil….’’
Jiwa itu pada dasarnya sehat dan bisa menerima agama Islam. Sedangkan, bagi mereka yang otaknya kacau, atau mereka yang berpikiran pendek dan hina, adalah sebuah kemungkinan bagi mereka untuk menjadi atheis.
Atheisme adalah pukulan yang mematikan pikiran seseorang. Ia adalah kesalahan yang tak ada bandingannya dalam sejarah kesalahan yang pernah ada.
Tidak ada yang mengingkari eksistensi Allah, kecuali Fir’aun, dan bahkan secara batin ia mengakui (keberadaan)-Nya. Oleh karena itu, Nabi Musa a.s berkata dalam Al-Qur’an :
‘’Musa menjawab, ‘’Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang binasa,’’ (Al-Isra’:102)
Fir’aun memahami kata-kata berikut ini ketika ajal menjemputnya(ketika hal itu sudah terlambat),mengatakan apa yang sebenarnya ada didalam hatinya.
‘’Ia berkata, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya temasuk orang-orang yang berserah diri(kepada Allah). (Yunus : 90).
Sungguh merugilah manusia yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun pengetahuan, karena kerugian itu akan menyebabkan mereka jauh dari Tuhannya. ALLAHUAKBAR !!!