Mata bening kehijauan milik Bu Tiur kembali menatap tajam wajah sok tak berdosaku yang sedang asyik terpekur ke bawah lantai menyaksikan dua ekor semut saling tarik-menarik. Aku sudah bosan. Bukan karena aku tak menyukai Bu Tiur. Bukan, bukan karena itu. Alasannya adalah karena dalam bulan ini saja, aku sudah mengunjungi tempat ini lima kali. Tempatnya adalah di ruang majelis guru SMA Negeri 3 Padang. Sekolahku. Sekarang aku sudah 30 menit duduk di depan Bu Tiur dan beliau masih menanyakan pertanyaan yang sama. Mengapa kamu melakukan itu? Mengapa kamu melakukan itu? Blablabla. Ya Tuhan, pertanyaan itu berputar di kepalaku. Tapi aku coba sabar untuk tidak bersuara dan menjawab pertanyaan beliau. Hari ini aku berhasil menang telak dari si centil Prita. Bagaimana tidak menang, Prita yang lemah gemulai itu sekali pelintir saja sudah menangis-nangis kesakitan. Akhirnya Bu Tiur frustasi juga melihatku hanya diam tak bergeming, dan menyuruhku kembali ke kelas.
Namaku Aulia Sephia, tapi teman-teman lebih sering memanggilku Asep. Mungkin karena watakku agak berbeda dari wanita kebanyakan. Saat teman-teman wanitaku berbondong-bondong masuk les piano dan biola, aku malah ikut kursus angklung. Saat teman-teman latihan balet dan berenang, aku malah mati-matian belajar pencak silat. Padahal Ibu bilang aku cukup manis dan rupawan, seperti orang-orang keturunan Minang. Tapi aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi wanita yang suka berdandan dan centil.
Mengenai prestasi sekolah, aku tidak bisa diremehkan. Bukannya sombong, tapi memang begitulah kenyataannya. Di kelas, aku hampir selalu masuk jajaran tiga besar. Mungkin juga karena itu Bu Tiur lebih perhatian kepadaku dan selalu mengecek keadaanku, kalau-kalau aku membuat keonaran lagi.
Hari ini kembali aku duduk manis di “kursi pesakitan”. Guru-guru hanya geleng-geleng kepala melihatku masuk ruang guru dengan “senyum pepsodent”. Langganan, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.
“Aulia, kamu tahu mengapa Ibu memanggilmu kesini?”, tanya Bu Tiur dengan sorot mata seolah-olah berharap aku tahu jawaban dari pertanyaannya tersebut. “Eng… tidak Bu. Dua hari ini saya nggak berantem lagi kok”, jawabku dengan nada yang sedikit memelas. Sekilas ku lihat Bu Tiur tersenyum. “Bukan karena itu Aulia, kalau masalah itu, Ibu tidak akan memanggilmu kesini, tapi Ibu akan langsung menelfon orang tuamu. Hehehe”. Mendengar tawa renyah Bu Tiur, aku jadi ikut tertawa. Guru Bahasa Indonesiaku ini sungguh mengagumkan. Guruku ini sangat periang dan baik hati. Beliau juga memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan. Sosok pendidik yang tak hanya mendidik dengan kata-kata, namun langsung mempraktekkannya dalam kehidupannya yang bersahaja. Di balik mata hijau teduhnya, guruku ini menyimpan keeksotisan khas gadis-gadis Aceh serta kemolekan dan keceriaan para Tsarina Rusia. Bu Tiur pernah bercerita di depan kelas bahwa beliau dibesarkan di Aceh, namun saat keadaan Aceh kacau balau karena kehadiran GAM (Gerakan Aceh Merdeka), maka Bu Tiur yang saat itu berumur 10 tahun dibawa sang kakek ke Rusia, negara asal ayahnya. Bu Tiur menetap selama 9 tahun di Rusia, namun akhirnya kembali ke Aceh karena ibunda Bu Tiur merindukannya. Bu Tiur sewaktu di Rusia sempat memiliki nama Rusia, tapi beliau lebih bangga memakai nama Acehnya, Cut Tiur Keumala. Bu Tiur juga sering memakai kerudung cantik berwarna toska, hampir setiap hari. Kerudung itu sudah seperti bagian yang tak terpisahkan dari diri Bu Tiur. Guru adalah impian Bu Tiur semenjak kecil, oleh karena itu Bu Tiur langsung melanjutkan studi di bidang pendidikan, tepatnya di jurusan Sastra Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang. Beliau memang selalu mengagumi sastra Indonesia.
“Terus? Kalau bukan karena itu, karena apalagi Bu?”, tanyaku penasaran. Ini hal yang tak biasa. “Begini, Ibu tau kamu sangat berbakat di bidang sastra. Ibu lihat hasil tulisanmu sangat bagus dan berkelas. Ibu malah tidak menyangka kamu yang membuat tulisan-tulisan itu. Hehe. Kamu juga sangat indah membacakan puisi. Ibu sudah lihat minggu kemarin”, jelas Bu Tiur membuat hidungku kembang kempis bangga. Tapi apa hubungannya itu semua dengan keberadaanku ada disini? “Jadi, Ibu ingin kamu tanggal 2 Mei besok, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, mewakili sekolah kita untuk berkompetisi dalam lomba baca puisi, lomba cerita rakyat, dan lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatera Barat, dan Ibu telah memilihmu untuk menulis cerpen. Ibu harap kamu siap mengemban tugas ini. Bukankah kamu memang suka tantangan?” tantang Bu Tiur kepadaku, menjawab tuntas semua pertanyaanku tadi. Apa? Menulis cerpen? Bagaimana bisa? Aku hanya coba menulis artikel dan puisi, bukan cerpen, tapi aku tergelitik mendengar pertanyaan Bu Tiur yang terakhir. “Bukankah kamu memang suka tantangan?”. Ya, aku harus bisa.
Waktuku tinggal 9 hari lagi. Aku harus benar-benar siap. Membuat artikel yang panjangnya lebih dari dua halaman saja aku bisa menyelesaikannya dalam hitungan jam, menulis puisi yang menggunakan kalimat-kalimat sastra tingkat tinggi juga begitu. Aku pasti bisa menulis cerpen yang tak lebih dari 8 halaman itu dalam 9 hari. Pokoknya aku harus bisa.
Aku mulai mencari tema dan judul untuk cerpenku nanti. Cerpen ini harus bertemakan pendidikan. Setelah mengelilingi sekolah untuk mencari inspirasi untuk tema, akhirnya aku menemukan satu objek yang akan ku jadikan “tokoh utama” dalam cerpenku nanti. Bu Guru Cut Tiur Keumala. Guruku yang cantik dibalut kerudung toska nan indah.
Pertama-tama, aku harus meneliti setiap gerak-gerik Bu Tiur di sekolah. Aku baru tau, ternyata Bu Tiur sejak kembali dari Rusia, tidak pernah makan nasi dan menggantinya dengan makan sayur-sayuran saja. Bu Tiur juga akan gemetaran saat dia ingin marah, karena itu Bu Tiur tidak pernah memarahi murid-muridnya. Bu Tiur juga akan lari terbirit-birit jika mendengar bunyi letusan apa saja, mungkin trauma masa kecil saat masa-masa penyerangan GAM di Aceh, apalagi baru-baru ini terdengar kabar ada letusan bom buku di Jalan Khatib Sulaiman. Konyol sekali kedengarannya.
Saat ini aku tengah berada di depan rumah Bu Tiur. Aku merasa perlu menanyakan satu hal pada keluarga beliau. Cerpenku sudah hampir selesai, hanya tinggal bagian klimaks saja.
Tok tok tok. Aku mengetuk pintu rumah Bu Tiur. Rumah ini sejuk sekali, mudah-mudahan penghuni rumah ini juga sama sejuknya dengan rumahnya.
“Ya, mau mencari siapa nak?”, seorang wanita paruh baya membuka pintu. “Saya ingin bertemu dengan ibu dari Bu Guru Tiur. Bisa Bu?”, tanyaku sopan pada wanita yang sekilas wajahnya mirip dengan Bu Tiur. “Oooh iya, saya sendiri nak. Ada apa ya?”, tanyanya setelah mempersilahkanku duduk. Setelah bercerita cukup lama untuk berbasa-basi, akhirnya aku bertanya hal yang dari dulu membuatku penasaran. Aku ingin bertanya apa sebenarnya nama Rusia Bu Tiur yang selama ini disembunyikannya. Mendengar pertanyaanku, Bu Meutia hanya tertawa, sepertinya hal nama ini bukan sesuatu yang penting baginya. “Mengapa kamu tak bertanya langsung pada gurumu itu?”, tanyanya. “Bu Tiur tidak pernah mau menjawab Bu. Tolonglah!”. “Nama Rusianya adalah Jelena Larissa”, jawabnya singkat, tak mengerti bahwa nama itu menjadi suatu rahasia besar di sekolah. Aku terkagum-kagum dengan nama itu, indah sekali, apalagi setelah aku mengetahui arti dibalik namanya.
Akhirnya cerpen itu rampung tepat 2 hari sebelum batas waktu pengiriman naskah. Jangan sampai Bu Tiur tahu tentang cerpenku, dan aku yakin Bu Tiur tidak akan tahu aku ke rumahnya untuk menanyakan banyak hal, karena aku sudah berpesan pada Bu Meutia agar tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganku waktu itu. Ini akan menjadi kejutan bagi Bu Tiur yang akan berulang tahun ke 26 tahun tepat tanggal 2 Mei lusa. Aku harus benar-benar memberikan kejutan sebagai hadiah ulang tahun Bu Tiur kali ini.
****
Hari itu datang. Hari yang ku tunggu-tunggu selama 9 hari belakangan ini. Hari Pendidikan Nasional. Ribuan orang telah memadati aula Universitas Bung Hatta, banyak dari mereka yang membawa spanduk berwarna-warni, mungkin supporter dari masing-masing sekolah yang mengirim wakil-wakilnya berjuang membawa nama sekolah. Aku semakin gelisah tak karuan, bukannya tak ada supporter, malah sekolah telah mengirim supporter-supporter terbaiknya untuk turut berjuang mendukungku, Bu Tiur juga tampak diantara teman-temanku, tapi anehnya beliau tidak memakai kerudung toska kesayangannya. Aku gelisah karena aku takut tidak akan menang.
Setelah mendengar nama pemenang kedua dan ketiga, hatiku mulai tak karuan. Sepertinya perjuanganku akan sia-sia. Aku tersentak kaget saat pembawa acara menyebut namaku sebagai pemenang pertama lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatra Barat yang diadakan Universitas Bung Hatta tahun ini..
Aku naik panggung dengan rasa haru dan syukur kepada Tuhan. Aku harus melakukannya sekarang. Saatnya telah tiba.
Pahlawan Bermata Bening
Karya: Aulia Sephia
Pahlawanku, pahlawan bermata bening nan menyejukkan
Pahlawanku, wajah cemerlangmu melebihi para Tsarina Rusia yang jelita
Pahlawanku, dengan kerudung toska yang setia membalut mahkotamu, kau ajarkan kami bagaimana menjadi manusia yang berguna.
Pahlawanku, gadis Tanah Rencong yang berhati lembut, yang akan ketakutan jika mendengar letusan, dan gemetaran jika murka, tapi engkau selalu ajarkan kami untuk tidak pernah takut kepada siapapun selain Tuhan
*Bu Tiur tersentak, menajamkan pendengaran dan mencodongkan tubuhnya ke depan
Pahlawanku, kau lebih tahu tentang diriku melebihi diriku sendiri
Pahlawanku, kau duduk di kelas bukan sebagai guru, tapi kau adalah teman setia murid-muridmu yang duduk menunggu tawa renyah dan pipimu yang merekah merah jika kami menggodamu
Pahlawanku, semangat dan dedikasimu terhadap pendidikan membuatku malu karena tak dapat berbuat banyak untuk negaraku.
*Bu Tiur berkaca-kaca dan tak lama kemudian mengusap ujung matanya dengan tissue.
Pahlawanku, kau guru terbaik yang kumiliki, semoga Tuhan selalu menyayangimu, seperti kami yang selalu mencintai dan mengagumi kedalaman jiwamu
Pahlawanku, malaikat-malaikat telah mencatat setiap ketulusan dan pengabdianmu bagi pendidikan di negeri yang rindu akan sosok sepertimu
Pahlawanku, yang tepat 26 tahun lalu dilahirkan
Pahlawanku, Jelena Larissa
Sinar terang yang riang dan bersuka cita.
Teman-temanku sontak bertepuk tangan riuh dan bersahut-sahutan menyoraki namaku setelah aku menyelesaikan baris terakhir puisiku, penonton yang lain juga ikut bertepuk tangan. Tanpa disadari aku meneteskan air mata haru--hal yang tak pernah ku lakukan--bukan karena tepuk tangan yang riuh rendah mendukungku, tetapi aku telah larut dalam penggalan puisi yang ku tulis dalam cerpenku yang ku persembahkan bagi Bu Tiur. Itulah bagian cerpen yang 9 hari ini mati-matian ku kerjakan.
Bu Tiur berjalan dan mendekat padaku, memelukku erat sekali. Aku hanya diam membiarkan Bu Tiur menyelesaikan isakannya. Setelah tangisnya reda, aku bertanya, “Kenapa menangis, Bu?. “Ibu sangat menyayangimu. Tak salah pilihan Ibu memintamu menulis cerpen. Ibu sangat bangga padamu Aulia”, jelas Bu Tiur dengan mata berkaca-kaca. “Hehe. Puisi Aulia bagus ya, Bu? Oh iya, selamat ulang tahun Bu”, tanyaku nyengir tak mengerti keadaan. “Puisimu istimewa, Nak”, lalu Bu Tiur merogoh tas nya dan mengeluarkan sesuatu berwarna toska. Kerudung. “Ini. Ambillah!”, menyodorkan kerudung tersebut kepadaku. “Lho? Apa ini, Bu?”, tanyaku heran, karena kerudung ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai Bu Tiur. “Masa kamu tidak tau? Ibu rasa kamu sangat tahu benda ini”. Ya, tebakanku benar. Kerudung ini adalah kerudung toska kesayangan Bu Tiur.
Kerudung cantik yang kini resmi menjadi milikku ini ternyata merupakan hadiah dari guru Bu Tiur saat bersekolah di Rusia dulu. Gurunya tersebut sangat menyayangi Bu Tiur, karena Bu Tiur merupakan murid yang cerdas dan sopan, seperti kebanyakan orang Indonesia. Sewaktu Bu Tiur akan kembali ke Indonesia, gurunya tersebut sangat sedih, karena Bu Tiur tidak pernah mengatakan rencananya tersebut ke gurunya. Bu Tiur tahu, gurunya tersebut akan sangat sedih mendengar kabar tersebut.
Setelah Bu Tiur menetap di Indonesia, kakeknya datang dari Rusia, saat GAM dan Indonesia sudah berdamai. Kakeknya memberikan oleh-oleh dari Rusia, yaitu kerudung buatan guru Bu Tiur saat di Rusia dulu. Kerudung itu dibuat sebulan sebelum kakeknya terbang ke Indonesia, karena sang guru mendengar dari kakek Bu Tiur bahwa beliau telah berjilbab. Saat menerima kerudung tersebut, Bu Tiur sangat senang dan semakin rindu kepada gurunya. Di dalam surat yang menyertai kerudung toska dari Rusia itu, guru Rusianya mengatakan, bahwa Bu Tiur boleh memberikan jilbab itu suatu hari nanti jika Bu Tiur menemukan murid terbaiknya. Aku tak menyangka, siswa yang sering berbuat keonaran sepertiku menerima kehormatan seperti ini. Aku menatap cermin di depanku dan sebutir air mata jatuh di pipiku. Hanya sebutir. Terimakasih Bu Tiur. Terimakasih pahlawan bermata beningku. Terimakasih guruku. Selamat Hari Pendidikan Bu.
Padang, 12 Mei 2011
Jumat, 20 Mei 2011
Cyber School, Impian Pendidikan Masa Depan Sumatera Barat
Pendidikan dan teknologi bagai dua sisi mata uang yang tidak akan pernah dapat dipisahkan. Teknologi dan informasi memegang peran sangat penting dalam proses pengembangan pendidikan saat ini. Tanpa teknologi, maka pendidikan zaman sekarang akan tidak lebih baik dari pendidikan 20 tahun silam. Mungkin saat ini kita masih menggunakan lampu pijar yang ditemukan Thomas Alfa Edison pada tahun 1879, bukannya lampu neon yang lebih terang dan lebih hemat. Mungkin juga saat ini kita masih menggunakan mesin ketik kuno, bukannya komputer-komputer canggih yang pintar dan ringan.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari perubahan-perubahan besar yang terjadi, karena roda globalisasi berputar sangat cepat, bahkan sebelum kita menyadarinya, terlebih setelah Revolusi Industri yang melanda Inggris dan diikuti berbagai negara di Eropa. Pada tahun 1903, Orville dan Wilbur Wright menerbangkan pesawat bersayap ganda mereka, suatu impian yang diimpikan manusia sejak dulu. Namun, kini lebih dari 10 dekade setelah mereka menerbangkan pesawat pertama mereka, telah banyak ilmuwan-ilmuwan yang mengembangkan dasar teori Wright Bersaudara untuk kemudian lahirlah pesawat-pesawat canggih, seperti : Concorde yang terbang dengan kecepatan 2.300 km/jam, Airbus A380 merupakan pesawat terbesar berlantai 2, dan pesawat jumbo jet Boeing 747. Itu semua tidak lepas dari peran teknologi yang terus berkembang dan bergerak maju
Pemanfaatan sistem informasi tak hanya merambah dunia kantoran dan eksekutif, tapi juga sangat bermanfaat bagi para praktisi pendidikan, akademisi, dan para pelajar. Saat ini tengah berkembang tren baru di dunia pendidikan. Banyak sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang memanfaatkan fasilitas jaringan internet nirkabel (tanpa kabel) yang biasa disebut hotspot sebagai media para siswa mendapatkan akses gratis internet di lingkungan sekolah atau kampus. Hal ini akibat dari perkembangan informasi yang menyebabkan setiap orang haus akan informasi terbaru dimana saja berada.
Di Sumatera Barat, hotspot tak lagi dimanfaatkan café-café mewah untuk menarik konsumen, namun kini juga telah menjamur di institusi-institusi pendidikan, seperti di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Tampaknya, para praktisi pendidikan ini juga telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya teknologi dan informasi untuk menunjang prestasi belajar para siswa. Fasilitas hotspot tak hanya mewarnai ranah pendidikan di kota besar seperti Padang, namun juga telah menyemarakkan sekolah-sekolah di kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat. Tinggal di kabupaten kecil tak lagi menjadi halangan bagi para siswa untuk mendapatkan fasilitas informasi seperti yang dimiliki siswa-siswa di kota.
Kemajuan teknologi dan informasi juga merupakan basis pembentukan sekolah-sekolah bertaraf internasional di Sumatera Barat. Hampir seluruh Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menawarkan fasilitas hotspot dan teknologi canggih dalam kelas yang mampu menunjang proses belajar mengajar. Pemakaian Over Head Projector (OHP) dan laptop di dalam kelas internasional mampu menawarkan hal baru di tengah kejenuhan siswa mengikuti metode belajar konvensional yang membosankan, dengan penggunaan perangkat elektronik canggih ini, siswa dapat menonton berbagai animasi dan sarana belajar audio visual yang dapat menampilkan berbagai pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari buku pelajaran. Hal ini turut mendorong akselerasi pendidikan di Sumatera Barat.
Era globalisasi dan modernisasi membawa kita kepada dunia tanpa batas yang tak lagi menjadikan jarak sebagai kendala. Dunia seperti dilipat sedemikian rupa hingga menjadi titik-titik kecil yang dapat dijangkau hanya dengan sekali klik. Begitupun dengan dunia pendidikan, jika saat ini seorang ilmuwan di Ukraina menemukan mikroorganisme baru penghancur sel kanker, maka bisa dipastikan, tak sampai hitungan hari, penemuan tersebut akan tersebar ke seluruh pelosok dunia. Hal itu tak lepas dari adanya peran besar teknologi yang sukses mempersempit ruang dan waktu.
Tak heran, jika kurang dari 10 tahun mendatang, akan terjadi peningkatan besar-besaran dalam penggunaan internet di Sumatera Barat, khususnya dalam dunia pendidikan. Pelajar-pelajar di Sumatera Barat telah terbiasa dengan berbagai teknologi canggih yang bisa dengan mudah mereka akses dimana saja, melalui smartphone-smartphone yang kian menjamur di kalangan remaja usia sekolah. Sekolah-sekolah mulai menawarkan paket pendidikan bermutu tinggi dengan fasilitas Hi-Tech yang mumpuni. Siswa tak lagi repot membolak-balik buku hanya untuk mendapatkan secuil data, karena dengan fasilitas yang disediakan sekolah, mereka akan mampu memperoleh informasi tersebut hanya dalam hitungan detik melalui laptop-laptop atau notebook yang mereka bawa dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot di sekolah. Hal ini akan mempermudah proses belajar mengajar dan menjadi suatu cara yang efektif dan efisien dalam memperoleh ilmu. Ilmu yang didapatkan tak hanya sebatas ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, namun juga berbagai informasi-informasi penting yang selalu di update melalui internet. Hal ini akan memperkuat minat siswa akan ilmu pengetahuan dan memberikan wawasan yang tidak membosankan, karena pelajar-pelajar zaman sekarang cenderung malas membuka buku untuk kemudian betah berlama-lama di depan komputer bermain game online atau membuka situs jejaring sosial, yang kebanyakan membawa dampak buruk bagi prestasi belajar siswa.
Dengan penggunaan sistem informasi yang mudah di lingkungan sekolah, maka impian membangun konsep Cyber School di sekolah-sekolah di Sumatera Barat tak lama lagi akan terwujud dalam bentuk sekolah-sekolah modern yang mampu memfasilitasi murid-muridnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, ini semua akan sangat sulit berjalan jika tenaga pengajar belum atau tidak mampu menguasai teknologi. Seorang guru dalam kapasitasnya sebagai seorang pengajar seharusnya juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Tidak ada lagi istilahnya seorang guru itu gaptek (gagap teknologi). Harus ada sinergisitas antara murid dan guru, dan itu tidak dapat dihindari. Maka, sebelum menerapkan konsep Cyber School di sekolah, harus ada pelatihan-pelatihan mendasar tentang cara pemanfaatan teknologi dan informasi bagi guru-guru.
Konsep Cyber School diharapkan mampu menjadi wadah bagi generasi-generasi muda yang kreatif dan ingin maju untuk dapat memfasilitasi dan mengeksplorasi bakat-bakat dan keinginan-keinginan para siswa tersebut agar menjadi suatu yang berharga dan berguna saat mereka terjun langsung ke dalam masyarakat. Sekolah tak lagi menjadi suatu tempat membosankan yang hanya berkutat dengan setumpuk buku dan pekerjaan rumah, guru yang killer dan jadwal yang itu-itu saja. Sekolah akan menjadi tempat yang dirindukan, dan hari bersekolah menjadi hari-hari yang dinantikan. Tak ada lagi kata-kata malas berangkat sekolah, yang ada hanya keceriaan dan semangat untuk datang ke sekolah tercinta. Setiap siswa memperoleh apa yang mereka ingin dapatkan dari pendidikan. Pendidikan bukan lagi masalah bagaimana menyelesaikan aljabar-aljabar yang rumit, bagaimana menyelesaikan teorema-teorema matematika atau bahkan mengukur kelajuan benda, tapi lebih dari itu, pendidikan merupakan proses pengembangan diri, mental, bakat, dan minat. Pendidikan harus dimulai dari pemanfaatan teknologi dan informasi yang tepat dan benar. Teknologi dapat membuat minat siswa menjadi terarah. Seorang anak yang tidak suka atau tidak mahir dalam pelajaran eksak atau sains, seperti: Matematika, Fisika, Kimia dan lebih menyukai pelajaran sosial dan menulis, maka dengan kemajuan teknologi, anak tersebut dapat menyalurkan hobi menulisnya dalam bentuk tulisan-tulisan yang bisa diposkan ke blog-blog yang dapat diakses melalui internet.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang dapat menguasai teknologi, begitulah yang sering kita dengar dan begitulah kenyataannya. Amerika Serikat, negara terkuat di dunia, dengan keterbatasan sumber daya alam yang mereka miliki, mereka dapat memimpin dunia melalui pengaruh-pengaruh ilmuwan-ilmuwan dan pemikir-pemikir hebat yang dilahirkan dari Negeri Paman Sam tersebut. Mereka menguasai teknologi dan menaruh perhatian sangat besar dalam pendidikan. Bandingkan dengan negara kita, Indonesia. Dibalik kekayaan alam yang berlimpah ruah, negara kita masih menyimpan permasalahan-permasalahan pelik ekonomi, karena keterbatasan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi dan mengolah kekayaan alam tersebut. Sebut saja PT. Freeport yang menancapkan kukunya di alam kaya Irian, perusahaan milik Amerika Serikat ini bertahun-tahun mengeruk kekayaan emas di tanah “hitam” ini tanpa ada imbalan yang setimpal bagi masyarakat yang memiliki kekayaan tersebut. Sebagian hasil perusahaan tersebut dibawa ke Amerika Serikat untuk membangun negaranya.
Sumatera Barat sebagai negeri yang sejak dulu dikenal sebagai negeri yang banyak melahirkan pemikir – pemikir hebat skala nasional dan internasional, kini telah kehilangan pamornya. Hal ini disebabkan menurunnya minat generasi muda Sumatera Barat akan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka lebih senang bermain dan menikmati masa muda dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Sudah saatnya generasi muda Sumatera Barat bangkit dari keterpurukan dan kembali menyusun puing – puing kejayaaan masa lalu. Tidak ada lagi generasi muda Sumatera Barat yang mengeluh saat berangkat ke sekolah, yang ada hanya semangat para pejuang, namun kini bukan lagi berjuang di medan perang mempertahankan negara dari penjajah kolonial, namun berjuang merebut kembali kejayaan Sumatera Barat di pentas nasional dan internasional. Sebagai pencetak manusia – manusia jempolan, dan usaha tersebut saat ini tidak cukup dilakukan hanya dengan duduk manis di bangku kelas, mendengarkan guru menerangkan pelajaran, dan menerima begitu saja apa yang didapatkan di sekolah, namun juga harus kritis dan memiliki kemampuan dalam penguasaan teknologi. Jika Sumatera Barat ingin merebut kejayaan itu kembali, maka generasi muda Sumatera Barat haruslah menguasai teknologi, karena teknologi merupakan kunci menaklukan dunia.
Kebanyakan dari kita tidak menyadari perubahan-perubahan besar yang terjadi, karena roda globalisasi berputar sangat cepat, bahkan sebelum kita menyadarinya, terlebih setelah Revolusi Industri yang melanda Inggris dan diikuti berbagai negara di Eropa. Pada tahun 1903, Orville dan Wilbur Wright menerbangkan pesawat bersayap ganda mereka, suatu impian yang diimpikan manusia sejak dulu. Namun, kini lebih dari 10 dekade setelah mereka menerbangkan pesawat pertama mereka, telah banyak ilmuwan-ilmuwan yang mengembangkan dasar teori Wright Bersaudara untuk kemudian lahirlah pesawat-pesawat canggih, seperti : Concorde yang terbang dengan kecepatan 2.300 km/jam, Airbus A380 merupakan pesawat terbesar berlantai 2, dan pesawat jumbo jet Boeing 747. Itu semua tidak lepas dari peran teknologi yang terus berkembang dan bergerak maju
Pemanfaatan sistem informasi tak hanya merambah dunia kantoran dan eksekutif, tapi juga sangat bermanfaat bagi para praktisi pendidikan, akademisi, dan para pelajar. Saat ini tengah berkembang tren baru di dunia pendidikan. Banyak sekolah-sekolah dan kampus-kampus yang memanfaatkan fasilitas jaringan internet nirkabel (tanpa kabel) yang biasa disebut hotspot sebagai media para siswa mendapatkan akses gratis internet di lingkungan sekolah atau kampus. Hal ini akibat dari perkembangan informasi yang menyebabkan setiap orang haus akan informasi terbaru dimana saja berada.
Di Sumatera Barat, hotspot tak lagi dimanfaatkan café-café mewah untuk menarik konsumen, namun kini juga telah menjamur di institusi-institusi pendidikan, seperti di kampus-kampus dan sekolah-sekolah. Tampaknya, para praktisi pendidikan ini juga telah memiliki kesadaran yang tinggi akan pentingnya teknologi dan informasi untuk menunjang prestasi belajar para siswa. Fasilitas hotspot tak hanya mewarnai ranah pendidikan di kota besar seperti Padang, namun juga telah menyemarakkan sekolah-sekolah di kabupaten-kabupaten di Sumatera Barat. Tinggal di kabupaten kecil tak lagi menjadi halangan bagi para siswa untuk mendapatkan fasilitas informasi seperti yang dimiliki siswa-siswa di kota.
Kemajuan teknologi dan informasi juga merupakan basis pembentukan sekolah-sekolah bertaraf internasional di Sumatera Barat. Hampir seluruh Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) menawarkan fasilitas hotspot dan teknologi canggih dalam kelas yang mampu menunjang proses belajar mengajar. Pemakaian Over Head Projector (OHP) dan laptop di dalam kelas internasional mampu menawarkan hal baru di tengah kejenuhan siswa mengikuti metode belajar konvensional yang membosankan, dengan penggunaan perangkat elektronik canggih ini, siswa dapat menonton berbagai animasi dan sarana belajar audio visual yang dapat menampilkan berbagai pengetahuan yang tidak dapat diperoleh dari buku pelajaran. Hal ini turut mendorong akselerasi pendidikan di Sumatera Barat.
Era globalisasi dan modernisasi membawa kita kepada dunia tanpa batas yang tak lagi menjadikan jarak sebagai kendala. Dunia seperti dilipat sedemikian rupa hingga menjadi titik-titik kecil yang dapat dijangkau hanya dengan sekali klik. Begitupun dengan dunia pendidikan, jika saat ini seorang ilmuwan di Ukraina menemukan mikroorganisme baru penghancur sel kanker, maka bisa dipastikan, tak sampai hitungan hari, penemuan tersebut akan tersebar ke seluruh pelosok dunia. Hal itu tak lepas dari adanya peran besar teknologi yang sukses mempersempit ruang dan waktu.
Tak heran, jika kurang dari 10 tahun mendatang, akan terjadi peningkatan besar-besaran dalam penggunaan internet di Sumatera Barat, khususnya dalam dunia pendidikan. Pelajar-pelajar di Sumatera Barat telah terbiasa dengan berbagai teknologi canggih yang bisa dengan mudah mereka akses dimana saja, melalui smartphone-smartphone yang kian menjamur di kalangan remaja usia sekolah. Sekolah-sekolah mulai menawarkan paket pendidikan bermutu tinggi dengan fasilitas Hi-Tech yang mumpuni. Siswa tak lagi repot membolak-balik buku hanya untuk mendapatkan secuil data, karena dengan fasilitas yang disediakan sekolah, mereka akan mampu memperoleh informasi tersebut hanya dalam hitungan detik melalui laptop-laptop atau notebook yang mereka bawa dengan memanfaatkan fasilitas free hotspot di sekolah. Hal ini akan mempermudah proses belajar mengajar dan menjadi suatu cara yang efektif dan efisien dalam memperoleh ilmu. Ilmu yang didapatkan tak hanya sebatas ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah, namun juga berbagai informasi-informasi penting yang selalu di update melalui internet. Hal ini akan memperkuat minat siswa akan ilmu pengetahuan dan memberikan wawasan yang tidak membosankan, karena pelajar-pelajar zaman sekarang cenderung malas membuka buku untuk kemudian betah berlama-lama di depan komputer bermain game online atau membuka situs jejaring sosial, yang kebanyakan membawa dampak buruk bagi prestasi belajar siswa.
Dengan penggunaan sistem informasi yang mudah di lingkungan sekolah, maka impian membangun konsep Cyber School di sekolah-sekolah di Sumatera Barat tak lama lagi akan terwujud dalam bentuk sekolah-sekolah modern yang mampu memfasilitasi murid-muridnya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, ini semua akan sangat sulit berjalan jika tenaga pengajar belum atau tidak mampu menguasai teknologi. Seorang guru dalam kapasitasnya sebagai seorang pengajar seharusnya juga mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Tidak ada lagi istilahnya seorang guru itu gaptek (gagap teknologi). Harus ada sinergisitas antara murid dan guru, dan itu tidak dapat dihindari. Maka, sebelum menerapkan konsep Cyber School di sekolah, harus ada pelatihan-pelatihan mendasar tentang cara pemanfaatan teknologi dan informasi bagi guru-guru.
Konsep Cyber School diharapkan mampu menjadi wadah bagi generasi-generasi muda yang kreatif dan ingin maju untuk dapat memfasilitasi dan mengeksplorasi bakat-bakat dan keinginan-keinginan para siswa tersebut agar menjadi suatu yang berharga dan berguna saat mereka terjun langsung ke dalam masyarakat. Sekolah tak lagi menjadi suatu tempat membosankan yang hanya berkutat dengan setumpuk buku dan pekerjaan rumah, guru yang killer dan jadwal yang itu-itu saja. Sekolah akan menjadi tempat yang dirindukan, dan hari bersekolah menjadi hari-hari yang dinantikan. Tak ada lagi kata-kata malas berangkat sekolah, yang ada hanya keceriaan dan semangat untuk datang ke sekolah tercinta. Setiap siswa memperoleh apa yang mereka ingin dapatkan dari pendidikan. Pendidikan bukan lagi masalah bagaimana menyelesaikan aljabar-aljabar yang rumit, bagaimana menyelesaikan teorema-teorema matematika atau bahkan mengukur kelajuan benda, tapi lebih dari itu, pendidikan merupakan proses pengembangan diri, mental, bakat, dan minat. Pendidikan harus dimulai dari pemanfaatan teknologi dan informasi yang tepat dan benar. Teknologi dapat membuat minat siswa menjadi terarah. Seorang anak yang tidak suka atau tidak mahir dalam pelajaran eksak atau sains, seperti: Matematika, Fisika, Kimia dan lebih menyukai pelajaran sosial dan menulis, maka dengan kemajuan teknologi, anak tersebut dapat menyalurkan hobi menulisnya dalam bentuk tulisan-tulisan yang bisa diposkan ke blog-blog yang dapat diakses melalui internet.
Bangsa yang maju adalah bangsa yang dapat menguasai teknologi, begitulah yang sering kita dengar dan begitulah kenyataannya. Amerika Serikat, negara terkuat di dunia, dengan keterbatasan sumber daya alam yang mereka miliki, mereka dapat memimpin dunia melalui pengaruh-pengaruh ilmuwan-ilmuwan dan pemikir-pemikir hebat yang dilahirkan dari Negeri Paman Sam tersebut. Mereka menguasai teknologi dan menaruh perhatian sangat besar dalam pendidikan. Bandingkan dengan negara kita, Indonesia. Dibalik kekayaan alam yang berlimpah ruah, negara kita masih menyimpan permasalahan-permasalahan pelik ekonomi, karena keterbatasan sumber daya manusia dalam menguasai teknologi dan mengolah kekayaan alam tersebut. Sebut saja PT. Freeport yang menancapkan kukunya di alam kaya Irian, perusahaan milik Amerika Serikat ini bertahun-tahun mengeruk kekayaan emas di tanah “hitam” ini tanpa ada imbalan yang setimpal bagi masyarakat yang memiliki kekayaan tersebut. Sebagian hasil perusahaan tersebut dibawa ke Amerika Serikat untuk membangun negaranya.
Sumatera Barat sebagai negeri yang sejak dulu dikenal sebagai negeri yang banyak melahirkan pemikir – pemikir hebat skala nasional dan internasional, kini telah kehilangan pamornya. Hal ini disebabkan menurunnya minat generasi muda Sumatera Barat akan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka lebih senang bermain dan menikmati masa muda dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Sudah saatnya generasi muda Sumatera Barat bangkit dari keterpurukan dan kembali menyusun puing – puing kejayaaan masa lalu. Tidak ada lagi generasi muda Sumatera Barat yang mengeluh saat berangkat ke sekolah, yang ada hanya semangat para pejuang, namun kini bukan lagi berjuang di medan perang mempertahankan negara dari penjajah kolonial, namun berjuang merebut kembali kejayaan Sumatera Barat di pentas nasional dan internasional. Sebagai pencetak manusia – manusia jempolan, dan usaha tersebut saat ini tidak cukup dilakukan hanya dengan duduk manis di bangku kelas, mendengarkan guru menerangkan pelajaran, dan menerima begitu saja apa yang didapatkan di sekolah, namun juga harus kritis dan memiliki kemampuan dalam penguasaan teknologi. Jika Sumatera Barat ingin merebut kejayaan itu kembali, maka generasi muda Sumatera Barat haruslah menguasai teknologi, karena teknologi merupakan kunci menaklukan dunia.
Langganan:
Postingan (Atom)