Kamis, 31 Maret 2011

Gue (bukan) Remaja Labil

Remaja Labil. Dua kata ini semakin akrab di telinga kita. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan karakter remaja yang rapuh, mudah goyah, emosian, moody, dll. Sebenarnya ini adalah sifat-sifat khas remaja, tapi nggak tau kenapa banyak oknum tak bertanggung jawab yang menggunakan istilah ini untuk kami. Salah satu oknum tak bertanggung jawab itu adalah Diyo Lineri (maaf bung, namamu aku tulis disini ^-^). Beliau ini selalu menyebutku remaja labil atau ABG labil. Alasan Diyo menggunakan istilah ini memang ada benarnya juga sih, soalnya gue lebih sering bersikap abnormal saat berhadapan dengan dia. Berbagai tingkah aneh dan ajaib sering terjadi saat gue mulai kehabisan akal godain dia. Dan seringkali tingkah labil gue ini berujung dengan perang mulut antara gue dan dia. Tapi nggak apa-apalah, daripada perang jidat.
Kelabilan ini juga terjadi di kelas. Udah banyak temen-temen seperjuangan gue yang terjangkit penyakit kronis ini, mulai dari masalah dengan guru, tugas-tugas di sekolah, tugas-tugas di rumah, PMS, sampe kaus kaki bolong pun ikut-ikutan bikin labil. Kadang, setelah kami tak tau lagi akan mengadu kemana, kami hanya bisa ketawa-ketawa nggak jelas, nyanyi-nyanyi nggak jelas, bengong, tidur-tiduran, bahkan ada yang dengan nggak tau dirinya berdiri di meja guru. DIMANA LETAK HARGA DIRI SEORANG GURU ??? -,-

Makhluk yang terpampang di atas ini adalah Jordy, dia adalah salah satu teman dekat gue dikelas. Cowok yang satu ini selalu bertingkah aneh kalo lagi nervous. Aksi yang dilakukannya di foto tersebut memicu berbagi kontroversi, mulai yang bilang dia kolong wewe, gadis desa abis diperkosa,dll.
Saat itu sebenarnya Jordy dan grupnya mau tampil drama buat ngambil nilai, dan Jordy ini berperan sebagai Dayang Sumbi di drama Tangkuban Perahu. Sungguh naas nasibmu teman.

Rabu, 30 Maret 2011

now, i'm a teenager

Yaah...seperti judulnya, saya memang remaja. Baru menginjak 16 tahun. Nggak tau kenapa jadi pengen nge-blog juga kaya temen-temen. Sebenernya ada 2 alasan kenapa saya nongol disini sebagai salah satu blogger, pertama ; karna teman-teman saya udah punya blog,malu juga kan kalo saya gak punya blog, kedua ; yaaah sepertinya ini alasan yang paling mendasar,kertas-kertas dan buku-buku tulis di rumah udah pada ngamuk,soalnya udah habis semua saya coret-coret. Menulis adalah salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari hidupku,begitupun dengan membaca, mungkin karna hal-hal ini lah kacamata berlensa minus 3,5 ini tidak dapat lepas dari mataku.
Hmmm... saat ini saya sedang duduk dibangku kelas XI IPA 1 SMA Negeri 3 Padang. Di sekolah ini saya memulai "karir" sebagai penulis,yaaah emang sih cuma nulis buat diri sendiri. Dan di sekolah ini pula saya mendapatkan teman-teman yang super-duper aneh bin ajaib. Sebagian kecil dari mereka  menjadi labil karna menjalin hubungan pertemanan yang cukup "intim" dengan saya. Sebut saja Nisa (nama sebenarnya), Nisa yang awalnya saya lihat sebagai seorang gadis yang smart dan cukup aktif di sekolah ini ternyata sangat heboh kalau sudah berkumpul dengan teman-teman seperguruan autis. Ada lagi Lady (juga nama sebenarnya), "gadis" ini sungguh mempunyai wajah yang menipu, Lady yang pertama saya lihat adalah seorang qori'ah, setiap ada acara bisa dipastikan Lady lah yang membaca ayat suci Al-Qur'an, suaranya sangat merdu. Tapiiii, dibalik itu semua, Lady memiliki sisi maskulin yang bahkan tidak semua lelaki memilikinya, bahkan kadang kami teman-temannya ragu dengan jenis kelamin "lady" yang satu ini. Ada juga Andini (bukan nama sebenarnya,nama aslinya sih Tya), naah ini lain lagi, kami berdua sempat dijuluki "pasangan lesbi terheboh abad ini. Aduuuuh....asli deeh, kami berdua tu nggak lesbi. Tapi kenapa sampe dijuluki seperti itu ? Jawabannya cuma karna kami sering terlihat berdua di setiap kesempatan, dan teman-teman sering mendengar kami mengucapkan kata "sayang" jika kami berbicara. Aaah.. sebenarnya kan itu hal yang wajar, bukan bermaksud untuk mengumbar kemesraan.
Sebenarnya masih banyak manusia-manusia lain yang positif terinfeksi virus autism saya, tapi mungkin hanya beliau-beliau di atas yang sering terlihat di sekitar saya.
Selain mereka yang disebutkan di atas, saya masih memiliki seseorang yang juga berpengaruh dihidup saya (selain orang tua, keluarga, dan guru tentunya). Dan dia yang beruntung itu adalah Diyo Lineri. Yaaah dia memang berbeda jenis kelamin dengan saya, karna itu lah kami dipertemukan. Kami sudah "menjalin hubungan" kira-kira 7 bulan, dan selama itu kami menjalaninya dengan LDR (Long Distance Relationship), karna saat ini dia sedang menempuh pendidikannya di Universitas Padjadjaran, Bandung, dan saya sendiri masih bersekolah di Padang. Sebenarnya dia sih orang Padang, cuma kuliah aja yang di Bandung, jadi nggak masalah kalo kami LDR, soalnya dia pasti pulang ke Padang paling nggak dua kali dalam setahun. Hubungan kami dilalui dengan banyak tantangan dan cobaan, apalagi jarak yang memisahkan membuat kami kadang kesulitan dalam memecahkan persoalan, tapi nggak masalah, meski beberapa kali kami nyaris bubar, namun sampai saat ini kami masih berjalan bergandengan.
Sebagai seorang remaja, sudah banyak hal-hal menarik, mencekam, menakutkan, mengerikan, menyenangkan, mengharukan, menyedihkan yang saya alami. Semuanya dikemas begitu rapi oleh Tuhan. Memang benar yang dibilang orang, saat-saat remaja adalah saat yang paling dramatis dalam hidup seseorang. Fase remaja adalah saat kita paling kritis dalam menghadapi persoalan, mungkin juga bisa dikatakan sebagai fase terberat dalam sejarah perjalanan hidup anak manusia. Saat remaja, kita lebih cenderung mengikuti hasrat muda kita daripada akal sehat kita sendiri. Semuanya dilakukan sebagai pembuktian diri bahwa kita sudah layak disebut dewasa. Begitupun dengan saya, saat ini kadang saya merasakan sesuatu, tapi 5 detik kemudian, saya bisa merasakan hal yang jauh berbeda. Disaat ini kita juga mulai merasakan berbagai konflik dengan orang tua,teman,dan adik. Benar-benar lucu hidup sebagai seorang remaja. And I enjoy it, because now, I'm a teenager