Jumat, 20 Mei 2011

Kerudung Toska dari Rusia

Mata bening kehijauan milik Bu Tiur kembali menatap tajam wajah sok tak berdosaku yang sedang asyik terpekur ke bawah lantai menyaksikan dua ekor semut saling tarik-menarik. Aku sudah bosan. Bukan karena aku tak menyukai Bu Tiur. Bukan, bukan karena itu. Alasannya adalah karena dalam bulan ini saja, aku sudah mengunjungi tempat ini lima kali. Tempatnya adalah di ruang majelis guru SMA Negeri 3 Padang. Sekolahku. Sekarang aku sudah 30 menit duduk di depan Bu Tiur dan beliau masih menanyakan pertanyaan yang sama. Mengapa kamu melakukan itu? Mengapa kamu melakukan itu? Blablabla. Ya Tuhan, pertanyaan itu berputar di kepalaku. Tapi aku coba sabar untuk tidak bersuara dan menjawab pertanyaan beliau. Hari ini aku berhasil menang telak dari si centil Prita. Bagaimana tidak menang, Prita yang lemah gemulai itu sekali pelintir saja sudah menangis-nangis kesakitan. Akhirnya Bu Tiur frustasi juga melihatku hanya diam tak bergeming, dan menyuruhku kembali ke kelas.
Namaku Aulia Sephia, tapi teman-teman lebih sering memanggilku Asep. Mungkin karena watakku agak berbeda dari wanita kebanyakan. Saat teman-teman wanitaku berbondong-bondong masuk les piano dan biola, aku malah ikut kursus angklung. Saat teman-teman latihan balet dan berenang, aku malah mati-matian belajar pencak silat. Padahal Ibu bilang aku cukup manis dan rupawan, seperti orang-orang keturunan Minang. Tapi aku sama sekali tidak berminat untuk menjadi wanita yang suka berdandan dan centil.
Mengenai prestasi sekolah, aku tidak bisa diremehkan. Bukannya sombong, tapi memang begitulah kenyataannya. Di kelas, aku hampir selalu masuk jajaran tiga besar. Mungkin juga karena itu Bu Tiur lebih perhatian kepadaku dan selalu mengecek keadaanku, kalau-kalau aku membuat keonaran lagi.
Hari ini kembali aku duduk manis di “kursi pesakitan”. Guru-guru hanya geleng-geleng kepala melihatku masuk ruang guru dengan “senyum pepsodent”. Langganan, mungkin itu yang ada dalam pikiran mereka.
“Aulia, kamu tahu mengapa Ibu memanggilmu kesini?”, tanya Bu Tiur dengan sorot mata seolah-olah berharap aku tahu jawaban dari pertanyaannya tersebut. “Eng… tidak Bu. Dua hari ini saya nggak berantem lagi kok”, jawabku dengan nada yang sedikit memelas. Sekilas ku lihat Bu Tiur tersenyum. “Bukan karena itu Aulia, kalau masalah itu, Ibu tidak akan memanggilmu kesini, tapi Ibu akan langsung menelfon orang tuamu. Hehehe”. Mendengar tawa renyah Bu Tiur, aku jadi ikut tertawa. Guru Bahasa Indonesiaku ini sungguh mengagumkan. Guruku ini sangat periang dan baik hati. Beliau juga memiliki dedikasi yang tinggi terhadap pendidikan. Sosok pendidik yang tak hanya mendidik dengan kata-kata, namun langsung mempraktekkannya dalam kehidupannya yang bersahaja. Di balik mata hijau teduhnya, guruku ini menyimpan keeksotisan khas gadis-gadis Aceh serta kemolekan dan keceriaan para Tsarina Rusia. Bu Tiur pernah bercerita di depan kelas bahwa beliau dibesarkan di Aceh, namun saat keadaan Aceh kacau balau karena kehadiran GAM (Gerakan Aceh Merdeka), maka Bu Tiur yang saat itu berumur 10 tahun dibawa sang kakek ke Rusia, negara asal ayahnya. Bu Tiur menetap selama 9 tahun di Rusia, namun akhirnya kembali ke Aceh karena ibunda Bu Tiur merindukannya. Bu Tiur sewaktu di Rusia sempat memiliki nama Rusia, tapi beliau lebih bangga memakai nama Acehnya, Cut Tiur Keumala. Bu Tiur juga sering memakai kerudung cantik berwarna toska, hampir setiap hari. Kerudung itu sudah seperti bagian yang tak terpisahkan dari diri Bu Tiur. Guru adalah impian Bu Tiur semenjak kecil, oleh karena itu Bu Tiur langsung melanjutkan studi di bidang pendidikan, tepatnya di jurusan Sastra Indonesia di Universitas Bung Hatta Padang. Beliau memang selalu mengagumi sastra Indonesia.
“Terus? Kalau bukan karena itu, karena apalagi Bu?”, tanyaku penasaran. Ini hal yang tak biasa. “Begini, Ibu tau kamu sangat berbakat di bidang sastra. Ibu lihat hasil tulisanmu sangat bagus dan berkelas. Ibu malah tidak menyangka kamu yang membuat tulisan-tulisan itu. Hehe. Kamu juga sangat indah membacakan puisi. Ibu sudah lihat minggu kemarin”, jelas Bu Tiur membuat hidungku kembang kempis bangga. Tapi apa hubungannya itu semua dengan keberadaanku ada disini? “Jadi, Ibu ingin kamu tanggal 2 Mei besok, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, mewakili sekolah kita untuk berkompetisi dalam lomba baca puisi, lomba cerita rakyat, dan lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatera Barat, dan Ibu telah memilihmu untuk menulis cerpen. Ibu harap kamu siap mengemban tugas ini. Bukankah kamu memang suka tantangan?” tantang Bu Tiur kepadaku, menjawab tuntas semua pertanyaanku tadi. Apa? Menulis cerpen? Bagaimana bisa? Aku hanya coba menulis artikel dan puisi, bukan cerpen, tapi aku tergelitik mendengar pertanyaan Bu Tiur yang terakhir. “Bukankah kamu memang suka tantangan?”. Ya, aku harus bisa.
Waktuku tinggal 9 hari lagi. Aku harus benar-benar siap. Membuat artikel yang panjangnya lebih dari dua halaman saja aku bisa menyelesaikannya dalam hitungan jam, menulis puisi yang menggunakan kalimat-kalimat sastra tingkat tinggi juga begitu. Aku pasti bisa menulis cerpen yang tak lebih dari 8 halaman itu dalam 9 hari. Pokoknya aku harus bisa.
Aku mulai mencari tema dan judul untuk cerpenku nanti. Cerpen ini harus bertemakan pendidikan. Setelah mengelilingi sekolah untuk mencari inspirasi untuk tema, akhirnya aku menemukan satu objek yang akan ku jadikan “tokoh utama” dalam cerpenku nanti. Bu Guru Cut Tiur Keumala. Guruku yang cantik dibalut kerudung toska nan indah.
Pertama-tama, aku harus meneliti setiap gerak-gerik Bu Tiur di sekolah. Aku baru tau, ternyata Bu Tiur sejak kembali dari Rusia, tidak pernah makan nasi dan menggantinya dengan makan sayur-sayuran saja. Bu Tiur juga akan gemetaran saat dia ingin marah, karena itu Bu Tiur tidak pernah memarahi murid-muridnya. Bu Tiur juga akan lari terbirit-birit jika mendengar bunyi letusan apa saja, mungkin trauma masa kecil saat masa-masa penyerangan GAM di Aceh, apalagi baru-baru ini terdengar kabar ada letusan bom buku di Jalan Khatib Sulaiman. Konyol sekali kedengarannya.
Saat ini aku tengah berada di depan rumah Bu Tiur. Aku merasa perlu menanyakan satu hal pada keluarga beliau. Cerpenku sudah hampir selesai, hanya tinggal bagian klimaks saja.
Tok tok tok. Aku mengetuk pintu rumah Bu Tiur. Rumah ini sejuk sekali, mudah-mudahan penghuni rumah ini juga sama sejuknya dengan rumahnya.
“Ya, mau mencari siapa nak?”, seorang wanita paruh baya membuka pintu. “Saya ingin bertemu dengan ibu dari Bu Guru Tiur. Bisa Bu?”, tanyaku sopan pada wanita yang sekilas wajahnya mirip dengan Bu Tiur. “Oooh iya, saya sendiri nak. Ada apa ya?”, tanyanya setelah mempersilahkanku duduk. Setelah bercerita cukup lama untuk berbasa-basi, akhirnya aku bertanya hal yang dari dulu membuatku penasaran. Aku ingin bertanya apa sebenarnya nama Rusia Bu Tiur yang selama ini disembunyikannya. Mendengar pertanyaanku, Bu Meutia hanya tertawa, sepertinya hal nama ini bukan sesuatu yang penting baginya. “Mengapa kamu tak bertanya langsung pada gurumu itu?”, tanyanya. “Bu Tiur tidak pernah mau menjawab Bu. Tolonglah!”. “Nama Rusianya adalah Jelena Larissa”, jawabnya singkat, tak mengerti bahwa nama itu menjadi suatu rahasia besar di sekolah. Aku terkagum-kagum dengan nama itu, indah sekali, apalagi setelah aku mengetahui arti dibalik namanya.
Akhirnya cerpen itu rampung tepat 2 hari sebelum batas waktu pengiriman naskah. Jangan sampai Bu Tiur tahu tentang cerpenku, dan aku yakin Bu Tiur tidak akan tahu aku ke rumahnya untuk menanyakan banyak hal, karena aku sudah berpesan pada Bu Meutia agar tidak mengatakan apa-apa tentang kedatanganku waktu itu. Ini akan menjadi kejutan bagi Bu Tiur yang akan berulang tahun ke 26 tahun tepat tanggal 2 Mei lusa. Aku harus benar-benar memberikan kejutan sebagai hadiah ulang tahun Bu Tiur kali ini.
****
Hari itu datang. Hari yang ku tunggu-tunggu selama 9 hari belakangan ini. Hari Pendidikan Nasional. Ribuan orang telah memadati aula Universitas Bung Hatta, banyak dari mereka yang membawa spanduk berwarna-warni, mungkin supporter dari masing-masing sekolah yang mengirim wakil-wakilnya berjuang membawa nama sekolah. Aku semakin gelisah tak karuan, bukannya tak ada supporter, malah sekolah telah mengirim supporter-supporter terbaiknya untuk turut berjuang mendukungku, Bu Tiur juga tampak diantara teman-temanku, tapi anehnya beliau tidak memakai kerudung toska kesayangannya. Aku gelisah karena aku takut tidak akan menang.
Setelah mendengar nama pemenang kedua dan ketiga, hatiku mulai tak karuan. Sepertinya perjuanganku akan sia-sia. Aku tersentak kaget saat pembawa acara menyebut namaku sebagai pemenang pertama lomba menulis cerpen tingkat Provinsi Sumatra Barat yang diadakan Universitas Bung Hatta tahun ini..
Aku naik panggung dengan rasa haru dan syukur kepada Tuhan. Aku harus melakukannya sekarang. Saatnya telah tiba.
Pahlawan Bermata Bening
Karya: Aulia Sephia
Pahlawanku, pahlawan bermata bening nan menyejukkan
Pahlawanku, wajah cemerlangmu melebihi para Tsarina Rusia yang jelita
Pahlawanku, dengan kerudung toska yang setia membalut mahkotamu, kau ajarkan kami bagaimana menjadi manusia yang berguna.
Pahlawanku, gadis Tanah Rencong yang berhati lembut, yang akan ketakutan jika mendengar letusan, dan gemetaran jika murka, tapi engkau selalu ajarkan kami untuk tidak pernah takut kepada siapapun selain Tuhan

*Bu Tiur tersentak, menajamkan pendengaran dan mencodongkan tubuhnya ke depan
Pahlawanku, kau lebih tahu tentang diriku melebihi diriku sendiri
Pahlawanku, kau duduk di kelas bukan sebagai guru, tapi kau adalah teman setia murid-muridmu yang duduk menunggu tawa renyah dan pipimu yang merekah merah jika kami menggodamu
Pahlawanku, semangat dan dedikasimu terhadap pendidikan membuatku malu karena tak dapat berbuat banyak untuk negaraku.

*Bu Tiur berkaca-kaca dan tak lama kemudian mengusap ujung matanya dengan tissue.
Pahlawanku, kau guru terbaik yang kumiliki, semoga Tuhan selalu menyayangimu, seperti kami yang selalu mencintai dan mengagumi kedalaman jiwamu
Pahlawanku, malaikat-malaikat telah mencatat setiap ketulusan dan pengabdianmu bagi pendidikan di negeri yang rindu akan sosok sepertimu
Pahlawanku, yang tepat 26 tahun lalu dilahirkan
Pahlawanku, Jelena Larissa
Sinar terang yang riang dan bersuka cita.


Teman-temanku sontak bertepuk tangan riuh dan bersahut-sahutan menyoraki namaku setelah aku menyelesaikan baris terakhir puisiku, penonton yang lain juga ikut bertepuk tangan. Tanpa disadari aku meneteskan air mata haru--hal yang tak pernah ku lakukan--bukan karena tepuk tangan yang riuh rendah mendukungku, tetapi aku telah larut dalam penggalan puisi yang ku tulis dalam cerpenku yang ku persembahkan bagi Bu Tiur. Itulah bagian cerpen yang 9 hari ini mati-matian ku kerjakan.
Bu Tiur berjalan dan mendekat padaku, memelukku erat sekali. Aku hanya diam membiarkan Bu Tiur menyelesaikan isakannya. Setelah tangisnya reda, aku bertanya, “Kenapa menangis, Bu?. “Ibu sangat menyayangimu. Tak salah pilihan Ibu memintamu menulis cerpen. Ibu sangat bangga padamu Aulia”, jelas Bu Tiur dengan mata berkaca-kaca. “Hehe. Puisi Aulia bagus ya, Bu? Oh iya, selamat ulang tahun Bu”, tanyaku nyengir tak mengerti keadaan. “Puisimu istimewa, Nak”, lalu Bu Tiur merogoh tas nya dan mengeluarkan sesuatu berwarna toska. Kerudung. “Ini. Ambillah!”, menyodorkan kerudung tersebut kepadaku. “Lho? Apa ini, Bu?”, tanyaku heran, karena kerudung ini sangat mirip dengan yang biasa dipakai Bu Tiur. “Masa kamu tidak tau? Ibu rasa kamu sangat tahu benda ini”. Ya, tebakanku benar. Kerudung ini adalah kerudung toska kesayangan Bu Tiur.
Kerudung cantik yang kini resmi menjadi milikku ini ternyata merupakan hadiah dari guru Bu Tiur saat bersekolah di Rusia dulu. Gurunya tersebut sangat menyayangi Bu Tiur, karena Bu Tiur merupakan murid yang cerdas dan sopan, seperti kebanyakan orang Indonesia. Sewaktu Bu Tiur akan kembali ke Indonesia, gurunya tersebut sangat sedih, karena Bu Tiur tidak pernah mengatakan rencananya tersebut ke gurunya. Bu Tiur tahu, gurunya tersebut akan sangat sedih mendengar kabar tersebut.
Setelah Bu Tiur menetap di Indonesia, kakeknya datang dari Rusia, saat GAM dan Indonesia sudah berdamai. Kakeknya memberikan oleh-oleh dari Rusia, yaitu kerudung buatan guru Bu Tiur saat di Rusia dulu. Kerudung itu dibuat sebulan sebelum kakeknya terbang ke Indonesia, karena sang guru mendengar dari kakek Bu Tiur bahwa beliau telah berjilbab. Saat menerima kerudung tersebut, Bu Tiur sangat senang dan semakin rindu kepada gurunya. Di dalam surat yang menyertai kerudung toska dari Rusia itu, guru Rusianya mengatakan, bahwa Bu Tiur boleh memberikan jilbab itu suatu hari nanti jika Bu Tiur menemukan murid terbaiknya. Aku tak menyangka, siswa yang sering berbuat keonaran sepertiku menerima kehormatan seperti ini. Aku menatap cermin di depanku dan sebutir air mata jatuh di pipiku. Hanya sebutir. Terimakasih Bu Tiur. Terimakasih pahlawan bermata beningku. Terimakasih guruku. Selamat Hari Pendidikan Bu.

Padang, 12 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar