Kita diciptakan oleh Pencipta Yang Cerdas. Kita ada untuk sebuah tujuan. Kita ada untuk membuktikan keberadaan Sang Pencipta.
Ilmu pengetahuan adalah sarana kita unuk mengenal Allah. Islam sangat menganjurkan ilmu pengetahuan. Kemajuan Islam dalam ilmu pengetahuan adalah bukti dari anjuran ini.
Manusia akan memahami dengan jelas mengenai penciptaan Allah akan dunia dan isinya. Dan ilmu pengetahuan adalah kendaraan kita untuk memahaminya. Perdebatan panjang tentang agama dan ilmu pengetahuan adaah hal bodoh yang dilakukan orang-orang bodoh, karena ilmu pengetahuan sesungguhnya mendekatkan kita pada jati diri dan pengetahuan kita tentang Tuhan.
Para ilmuwan penting yang masyur akan hasil penelitian dan penemuan-penemuannya adalah orang-orang yang taat akan agama.
Abu Bakar Ar-Razi, ahli dalam bidang pengobatan dan tinggal di Bagdad. Karyanya adalah ensiklopedia obat-obatan (Al-Hawi). Kemudian Abu Nasr Al-Farabi, keturunan Turki. Dia ahli dalam bidang kedokteran abad modern. Ada juga Abu Hamid Al-Ghazali, pemikir intelektual Arab, ahli dalam bidang tasawuf, hukum, teologi. Karyanya yang terkenal Ihya Ulumuddin. Orang mengatakan buku ini bahwa “Seandainya seluruh buku islam dimusnahkan dan hanya Ihya Ulumuddin yang terselamatkan, maka itu hanya kerugian kecil”. Dia dijuluki ‘’Muslim Terbesar setelah Nabi Muhammad’’ oleh Prof. Anne Marie Schimmel. Banyak dari karya-karya para muslim jenius yang menjadi rujukan orang-orang Barat, bahkan banyak yang kemudian dipatenkan sebagai penemuan bangsa Barat.
Masyarakat muslim mencerminkan kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya ilmu pengetahuan. Ketekunan para cendekiawan muslim masih tetap mengagumkan. Mereka dengan teknologi yang sederhana mampu menulis kerya-karya besar. Sebut saja, At-Thabari mampu menulis 40 halaman setiap hari dalam 40 tahun, dengan karyanya Tafsir Al-Qur’an sebanyak 30 jilid selama 10 tahun. Al-Farabi Malik, Ibnu Annas, Imam Hambal, Al-Biruni, Firdaus dan Ibnu Khaldun hidup kira-kira sampai 80 tahun.
Pengetahuan dan ilmu yang mereka pelajari semakin membuat mereka dekat dengan Tuhannya. Dan membuat mereka sampai pada kesadaran tertinggi bahwa Tuhan adalah suatu kebenaran postulat, kebenaran tertinggi dan tak terbantahkan. Bahwa menemukan jagad raya ditata sedemikian rupa hingga mereka mendapati keteraturan yang mengagumkan, dan jagad raya diatur oleh Dzat yang Maha Kuasa, bukan hasil dari suatu kejadian acak. Semakin mereka belajar tentang proses penciptaan Bumi dan Jagad Raya, dan tentang penciptaan manusia, semakin mereka yakin bahwa Darwinisme adalah hal yang mustahil.
Dan pendapat para Atheis tentang ketidakadaan Tuhan adalah hal yang picik. Seorang ilmuwan terkemuka menyampaikan bahwa ‘’ Jika aku diajak berdebat oleh seorang Atheis, aku akan pergi ke fakultas filsafat, karena fisika tidak akan ada gunanya’’. Hal ini bisa berarti bahwa seorang Atheis tak akan mampu menguasai ilmu pengetahuan, karena mereka tidak pernah mempercayai Tuhan.
Dalam majalah Ar-Risalah, ada sebuah artikel menarik tentang komunisme yang ditulis oleh Zayyat. Saat itu Rusia mengirimkan sebuah pesawat ruang angkasa untuk melakukan misi ke ruang angkasa, kemudian setelah kembali salah seorang dari kosmonotnya—sebagaimana dikutip oleh Pravda—berkata, ‘’Kita telah naik ke langit dan kita tidak menemukan disana ada Tuhan, surga, neraka, atau malaikat’’.
Atas pernyatan yang menggelitik itu, Zayyat meresponnya dan menulis, ‘’Sungguh mengherankan kamu. Hai, bangsa merah dungu! Apakah kamu kira akan bisa melihat Allah diatas singgasana-Nya di alam terbuka? Apakah kamu pikir kamu bisa melihat gadis-gadis surga berjalan berpakaian sutra? Atau kamu akan dengar suara mengalirnya sungai Al-Kautsar(sebuah sungai disurga)? Atau kamu dapat mencium bau hangus orang yang sedang disiksa di neraka? Jika benar-benar kamu berpikir demikian, maka kekalahan dan kegagalanmu sudah terbuka untuk siapapun yang melihatnya.
Hal yang terpikirkan olehku adalah bahwa yang bisa menjelaskan kesesatan, kekacauan, dan kedunguanmu adalah karena komunisme dan atheisme ada dikepalamu. Komunisme ibarat hari ini tanpa hari esok, bumi tanpa langit, bekerja tanpa henti, dan bekerja keras tanpa memperoleh hasil….’’
Jiwa itu pada dasarnya sehat dan bisa menerima agama Islam. Sedangkan, bagi mereka yang otaknya kacau, atau mereka yang berpikiran pendek dan hina, adalah sebuah kemungkinan bagi mereka untuk menjadi atheis.
Atheisme adalah pukulan yang mematikan pikiran seseorang. Ia adalah kesalahan yang tak ada bandingannya dalam sejarah kesalahan yang pernah ada.
Tidak ada yang mengingkari eksistensi Allah, kecuali Fir’aun, dan bahkan secara batin ia mengakui (keberadaan)-Nya. Oleh karena itu, Nabi Musa a.s berkata dalam Al-Qur’an :
‘’Musa menjawab, ‘’Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang binasa,’’ (Al-Isra’:102)
Fir’aun memahami kata-kata berikut ini ketika ajal menjemputnya(ketika hal itu sudah terlambat),mengatakan apa yang sebenarnya ada didalam hatinya.
‘’Ia berkata, ‘Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya temasuk orang-orang yang berserah diri(kepada Allah). (Yunus : 90).
Sungguh merugilah manusia yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun pengetahuan, karena kerugian itu akan menyebabkan mereka jauh dari Tuhannya. ALLAHUAKBAR !!!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar