Minggu, 10 April 2011

My Mom, My Sweetest Friend


Mama. Begitulah beliau selalu kami panggil. Mama adalah sosok wanita sederhana yang selalu bisa mengatur semua kegiatan rumah tangga hanya dengan dua tangannya. Mama tidak memiliki pendidikan setinggi mama teman-temanku, yang berprofesi sebagai dosen, guru, dokter, pegawai ini, pegawai itu, dll. Mama hanya ibu rumah tangga biasa, yang setiap hari hanya di rumah mengatur roda kehidupan di rumah kami. Tapi aku selalu bangga punya mama ibu rumah tangga. Beliau selalu ada untuk kami 24 jam, tidak seperti kebanyakan teman-temanku yang kadang tidak bertemu mamanya dalam sehari karena padatnya kegiatan. Kadang, kalau mama sedang tidak ada kegiatan lagi, mama menghampiriku ke kamar dan bertanya banyak hal, seperti apa yang sedang aku lakukan, apa saja kegiatanku, bagaimana sekolah hari ini, bagaimana nilai-nilaiku, bagaimana dengan teman-teman, terkadang juga menanyakan keadaan pacarku. Hal-hal kecil seperti itu sangat aku syukuri, karena banyak teman-temanku yang tidak memiliki kedekatan seperti ini dengan mamanya, bukan karena mama mereka tidak sayang, tapi karena tidak punya waktu untuk melakukan itu semua. Tapi mamaku punya.
Satu hal lagi yang membuatku dekat dengan mama. Kami selalu saling terbuka. Mama memperbolehkanku berhubungan dengan lawan jenis, asal tau batas dan aturan dan tidak mengganggu pelajaran. Selama ini mama selalu memberiku ultimatum yang melecut semangat belajarku, mama selalu mengatakan kalau sampai nilai-nilaiku di sekolah jelek atau turun, maka aku tidak diperbolehkan lagi berpacaran, walaupun aku tau, ultimatum ini hanya “gertak sambal” saja, tapi aku selalu menghormati keputusan mama dan berusaha agar nilaiku selalu baik di kelas, dan hasilnya cukup memuaskan. Mama selalu memberikan apa yang aku mau, maka sebagai gantinya, aku juga harus menuruti semua kemauan mama.
Banyak dari teman-temanku yang tidak memiliki kebebasan ini, mereka malah harus backstreet dari mamanya, karena sang mama sama sekali tidak memperbolehkan mereka pacaran. Aku sangat prihatin dengan keadaan teman-temanku ini, tapi apa mau dikata, lain ibu lain pula peraturannya. Mama mengerti keadaanku sebagai seorang remaja, bahwa remaja sekarang tidak akan mungkin bisa dikungkung seperti itu. Percuma saja jika dilarang pacaran, toh kalau seandainya si anak pacaran di belakangnya, malah akan mengakibatkan sang anak tidak jujur kepada orang tua dan bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sikap terbuka akan membuat sang anak merasa dihargai dan disayangi. Walaupun terkadang, orang tua harus memberikan batasan yang jelas terhadap hubungan anaknya tersebut.
Mama selalu memperhatikan apa saja yang kami lakukan, mama sering bertanya “Gimana sekolah hari ini Kak?”, “Gimana nilai ulangan kemaren?”, atau jika saat itu mama kebetulan melihatku sedang berkutat dengan buku pelajaran, mama akan berkata, “Dari pagi udah belajar nonstop, sekarang masih belajar sampe larut malam, emangnya gak kepaksa otaknya belajar kak? Istirahat dulu kek”, dan aku hanya tersenyum sedikit kepada mama.
Walaupun hubunganku dengan mama cukup dekat, tapi bukan berarti hubungan kami selalu akur, sering kali kami bertengkar, dan biasanya hanya karena masalah sepele. Mama adalah seorang yang perfeksionis, mama tidak pernah membiarkan setitik debu ada di rumah, sedangkan aku yang manja, selalu tidak bisa mengerjakan apa yang mama lakukan, padahal sebagai anak gadis, aku sudah bisa melakukan apa yang mama kerjakan di rumah, seperti mencuci piring, menyapu rumah, membersihkan kamar, dan nyetrika baju, tapi aku tidak pernah melakukannya sendiri dan menunggu mama yang melakukannya. Hal ini yang kadang membuat mama marah-marah sepanjang hari. FYI ! Sampai sekarang, masih mama yang membereskan kamarku. Hehe. LOVE YOU MOM ;).
Begitu lah mama, mama yang selalu aku cintai, yang selalu aku hormati, yang selalu aku banggakan, dan yang selalu aku doakan.

Mama, belumlah pantas aku sombong di hadapanmu, sedangkan perjuanganmu melahirkanku melahirkanku ke dunia begitu berat dan menyakitkan
Mama, setiap pagi mama yang mengurus keperluanku sekolah dan berjuang agar aku tidak terlambat, tapi sering kali aku membuat mama sedih
Mama, hanya mama yang mau mengambil raporku ke sekolah. Tapi aku masih suka marah saat mama terlambat datang.
Mama, saat aku sakit, hanya mama yang peduli bahkan saat papa menganggap remeh penyakitku
Mama, setiap hari hanya mama yang membersihkan kamar dan tempat tidurku, tapi ketika mama meminta bantuanku, aku lebih sering tak menghiraukannya
Mama, ketika papa memarahiku saat nilai-nilaiku turun, mama selalu membelaku, walaupun aku tahu, mama sebenarnya juga ingin marah.
Selagi mama masih ada, aku tidak pandai bersyukur bahwa aku memiliki ibu terbaik di dunia, yang tidak ada gantinya
Maafkan aku mama, memang tak pantas aku pongah, bahkan meskipun amal ibadahku telah menggunung
Ya Allah Ya Sami’, dengarkanlah doa hamba, doa seorang anak yang mencintai Ibu Bapak nya
Berikanlah kedua orang tuaku limpahan rezeki dan kasih sayangMu, sayangilah mereka sebagaimana mereka merawatku semenjak kecil


Tidak ada komentar:

Posting Komentar